Dalam beberapa waktu terakhir, disiplin rohani mulai mengalami kebangkitan kembali di tengah gereja Kristen -- dan hal ini bukan tanpa alasan. Ketika kekristenan di Amerika Serikat tampak mengalami stagnasi, muncul dorongan baru untuk menekankan pemuridan yang sejati di dalam gereja. Meski demikian, ada satu disiplin rohani yang tampaknya masih jarang mendapat sorotan, yaitu perenungan atau refleksi.
Dari sudut pandang tradisi Reformed, saya melihat ada dua alasan utama mengapa refleksi kerap terabaikan. Pertama, budaya masyarakat Amerika mengajarkan kita untuk terus bergerak cepat dan tidak pernah melambat. Kita terbiasa hidup dalam ritme yang serba tergesa, seolah-olah waktu yang digunakan untuk merenung adalah waktu yang sia-sia. Sayangnya, pola pikir ini pun telah menyusup ke dalam kehidupan bergereja. Sebagai anggota jemaat, kita sering terbawa dalam arus aktivitas: dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya, dari satu program ke program lain. Kita tidak terbiasa untuk berhenti sejenak dan melambat.
Alasan kedua yang saya lihat berkaitan dengan teologi Reformed itu sendiri, yang dalam pengalaman saya sering berpadu dengan etos kerja khas Belanda. Kita telah mengadopsi gagasan Calvinis-Kuyperian tentang reformasi menyeluruh atas ciptaan -- bahwa segala sesuatu harus dibawa di bawah pemerintahan Kristus. Gagasan ini sangat saya hargai, dan saya menganggapnya sebagai salah satu kekuatan iman Reformed. Namun, sering kali, kita melangkah terlalu jauh dengan menganggap seolah-olah kitalah yang bertanggung jawab membawa hadirnya kerajaan Allah di dunia. Kita menjadi begitu sibuk dengan "pekerjaan kerajaan" ini, hingga tidak menyisakan ruang untuk berhenti dan merenung. Saya tidak sedang meremehkan semangat reformasi atas seluruh ciptaan -- saya mengasihinya -- tetapi seperti halnya semua hal yang baik, semangat ini pun perlu dijaga agar tetap seimbang.
Lalu, mengapa refleksi itu penting? Perenungan yang dilakukan secara teratur membantu kita untuk memeriksa keadaan jiwa kita dan menilai pertumbuhan rohani kita dengan jujur. Kita bisa melihat di mana letak kekuatan kita, dan di mana kita masih perlu bertumbuh.
Selain itu, refleksi menjaga agar hal-hal rohani tetap berada di pusat perhatian kita. Ketika setiap hari kita merenungkan apa yang sedang dan telah dikerjakan oleh Allah dalam hidup kita, hidup di hadirat-Nya -- hidup coram Deo -- akan menjadi lebih alami bagi kita. Perenungan mengarahkan pandangan kita untuk mencari Dia, baik dalam kehidupan pribadi, dalam orang-orang di sekitar kita, di tengah jemaat, maupun di dalam dunia secara keseluruhan.
Saya sungguh percaya bahwa refleksi adalah praktik yang perlu dihidupi setiap hari oleh setiap orang Kristen. Dengan merenungkan siapa diri kita, siapa kita sedang dibentuk menjadi, bagaimana Allah bekerja di dalam kita, dan bagaimana Dia berkarya di sekitar kita, kita akan semakin mampu menjalani hidup Kristen secara utuh dan mendalam. Perenungan seperti ini menolong kita untuk melepaskan diri dari tarik-menarik dunia yang memecah fokus, dan mengarahkan kembali hati serta pikiran kita kepada Sang Juru Selamat dan Pencipta. Dalam prosesnya, refleksi akan membentuk kita menjadi murid yang lebih setia dan peka terhadap kehadiran Tuhan kita, Yesus Kristus.
(t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | Christian Reformed Church The Network |
| Alamat situs | : | https://network.crcna.org/topic/spiritual-formation/faith-nurture/reflection-christian-life |
| Judul asli artikel | : | Reflection in the Christian Life |
| Penulis artikel | : | Kyle Dieleman |

