Saya sering bergumul untuk memahami sejauh mana sesuatu merupakan bagian dari kedaulatan Allah, dan sejauh mana itu menjadi tanggung jawab saya secara pribadi.
Sebagian orang menekankan kedaulatan Allah dalam keselamatan sedemikian rupa hingga hampir meniadakan peran manusia. Misalnya, ketika William Carey berniat pergi ke India sebagai misionaris, seorang pendeta berkata kepadanya, "Anak muda, duduklah. Ketika Allah berkenan memertobatkan orang kafir, Dia akan melakukannya tanpa bantuanmu ataupun bantuanku." Saya tidak sependapat. Pernyataan itu tidak sejalan dengan pemahaman saya tentang Amanat Agung -- dan juga tidak sejalan dengan pemahaman Carey tentang kedaulatan Allah.
Sebaliknya, ada juga yang melebih-lebihkan tanggung jawab manusia. Rick Warren, misalnya, pernah berkata, "Saya sangat yakin bahwa setiap orang bisa dimenangkan bagi Kristus jika kita menemukan kunci hatinya." Benarkah demikian? Saya bahkan belum memahami kunci hati saya sendiri, apalagi hati orang lain. Pandangan seperti ini terlalu menaruh harapan pada kemampuan manusia untuk memengaruhi dan membujuk.
Dalam hal pengudusan -- yakni pertumbuhan dalam keselamatan kita -- ada yang mengajarkan pendekatan yang sangat pasif. "Lepaskan dan biarkan Tuhan bekerja," kata mereka. Para penganut gerakan Higher Life (Kehidupan yang Lebih Tinggi) berpendapat bahwa berjuang secara aktif melawan dosa justru berarti mengandalkan kekuatan daging. Sebaliknya, ada pula yang begitu menekankan disiplin rohani hingga seolah-olah pekerjaan Roh Kudus tergantung sepenuhnya pada upaya manusia. Akibatnya, orang-orang justru berusaha menjalani kehidupan Kristen dengan kekuatan sendiri. Sebagai contoh, Institute for Basic Youth Conflicts membanggakan "prinsip-prinsip hidup yang tidak bersifat opsional yang, jika diikuti, akan menghasilkan hubungan yang harmonis dalam semua aspek kehidupan."
Tampaknya saya bukan satu-satunya yang bergumul untuk memahami bagaimana menyeimbangkan antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia.
Jadi, di manakah letak keseimbangan menurut Alkitab? Atau, lebih tepatnya: apakah saya harus aktif berusaha untuk menjadi serupa dengan Kristus, atau cukup berdoa dan memohon agar Tuhan yang mengerjakan perubahan dalam hati saya?
Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita perhatikan kata-kata Paulus dalam Filipi 2:12-13. Saya berterima kasih kepada Steven Cole atas pemaparannya yang sangat membantu dalam menafsirkan bagian penting ini.
12 Karena itu, Saudara-saudaraku yang terkasih, sebagaimana kamu selalu taat — bukan hanya ketika aku ada bersamamu, lebih-lebih sekarang ketika aku tidak bersamamu -- kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar. 13 Sebab, Allahlah yang bekerja di dalam kamu, baik untuk mengingini maupun untuk mengerjakan apa yang menyenangkan-Nya. (Filipi 2:12-13, AYT)
Sebelumnya, dalam Filipi 1:27 (AYT), Paulus telah menasihati para pembacanya untuk hidup dengan cara yang "layak bagi Injil Kristus." Hidup yang layak bagi Injil menggambarkan kehidupan yang aktif melayani Kristus, sekaligus percaya penuh kepada kedaulatan Allah. Ini bukan kehidupan yang pasif, melainkan kehidupan yang dinamis karena berakar pada relasi yang hidup dengan Yesus Kristus. Mari kita perhatikan bagaimana Paulus menguraikan pola hidup ini dalam Filipi 2:12-16.
Ayat 12: Tanggung Jawab Kita Sebagai Manusia
Paulus memulai dengan seruan untuk taat: "Karena itu, Saudara-saudaraku yang terkasih, sebagaimana kamu selalu taat -- bukan hanya ketika aku ada bersamamu, lebih-lebih sekarang ketika aku tidak bersamamu ..." (ay. 12a, AYT).
Paulus memulai dengan memuji jemaat di Filipi atas ketaatan mereka. Dia telah memuridkan, membimbing, dan mengajar mereka untuk mengikut Kristus -- dan dia bersukacita melihat pertumbuhan mereka.
Namun, bagaimana jika Paulus tidak pernah kembali? Kemungkinan itu nyata, mengingat situasi hukumnya saat itu. Karena itu, dia mendorong mereka untuk tetap menaati ajarannya meskipun dia tidak hadir secara fisik.
Yang Paulus inginkan adalah ketaatan yang lahir dari inisiatif pribadi. Saya sendiri pernah mengembangkan sebuah program di sekolah Kristen kami yang bertujuan menumbuhkan apa yang kami sebut sebagai "pelayanan tanpa diminta". Tujuannya bukan sekadar mendorong siswa untuk melayani, tetapi membentuk karakter yang peka terhadap kebutuhan sekitar dan tanggap melayani tanpa harus disuruh.
Inilah jenis ketaatan yang Paulus dambakan dari jemaat Filipi -- ketaatan yang konsisten, baik saat dia hadir maupun tidak; bukan karena tekanan eksternal, tetapi sebagai buah dari kesetiaan mereka kepada Kristus.
Panggilan kedua Paulus adalah untuk "kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar" (ay. 12b, AYT).
Sejak hari kita menaruh iman kita kepada Kristus, kita pun memikul tanggung jawab untuk menaati-Nya. Dengan menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat dan Tuhan, saya menurunkan semua ilah lain dari takhta hati saya dan menyerahkan kendali hidup sepenuhnya kepada-Nya. Sejak saat itu, saya terus merenungkan dan menjalankan implikasi dari keputusan tersebut dalam hidup saya.
"Mengerjakan keselamatan" tidak berarti kita berusaha memperoleh keselamatan. Tak seorang pun dapat meraih hidup kekal melalui usaha sendiri. Sebaliknya, seperti yang dijelaskan dengan baik oleh Steven Cole, satu-satunya orang yang masuk surga adalah mereka yang menyadari bahwa mereka tersesat dan berseru kepada Allah agar diselamatkan melalui darah Anak-Nya, Yesus Kristus. Namun, setelah menerima Kristus, kita memasuki proses pengudusan -- proses ketika orang percaya mulai menghidupi dan memancarkan kehidupan baru mereka di dalam Kristus.
Pada akhirnya, tujuan penginjilan bukan sekadar menyelamatkan manusia dari neraka, tetapi untuk membimbing mereka menaati seluruh ajaran Yesus. Seperti tertulis dalam Matius 28:19 (AYT): "Karena itu, pergilah dan muridkanlah semua bangsa, baptiskanlah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus, dan ajarkanlah mereka untuk menaati semua yang Aku perintahkan kepadamu."
Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog Jerman yang gugur karena menentang rezim Nazi, pernah berkata, "Hanya orang percaya yang taat, dan hanya mereka yang taat yang benar-benar percaya" (Stephen R. Haynes dan Lori Brandt Hale, Bonhoeffer for Armchair Theologians, ed. pertama, Armchair Theologians Series [Louisville, KY: Westminster John Knox Press, 2009], hlm. 44).
Paulus ingin para pembacanya menyadari bahwa meskipun kita tidak diselamatkan oleh perbuatan kita, kita diselamatkan untuk melakukan perbuatan baik (bdk. Efesus 2:10).
"Mengerjakan keselamatan kita", berarti menjalani iman kita di dalam Kristus. Hal ini hampir sama dengan membiarkan cara hidup kita layak bagi Injil" (Filipi 1:27) -- sebuah proses yang berlangsung seumur hidup.
Jangan salah paham tentang apa yang Paulus inginkan. Dia menginginkan perubahan nyata dalam kehidupan jemaat di Filipi dan dia memanggil mereka untuk taat dan bekerja keras untuk melakukan perubahan itu. Ini adalah sisi usaha kita sebagai manusia, tapi tunggu, lihatlah ayat 13.
Ayat 13: Peran Allah dalam Keseimbangan Ini
"Sebab, Allahlah yang bekerja di dalam kamu, baik untuk mengingini maupun untuk mengerjakan apa yang menyenangkan-Nya " (ay. 13, AYT).
Setelah memerintahkan kita untuk taat dan bekerja keras, Paulus kemudian menjelaskan bagaimana hal itu bisa terjadi. Ternyata, kemampuan untuk menaati Allah dan mengerjakan keselamatan kita berasal dari Dia sendiri!
Allah sendirilah yang menanamkan keinginan dalam hati kita untuk hidup benar, dan Dialah yang memberi kita kemampuan untuk melakukan apa yang menyenangkan-Nya. Semua ini murni karena anugerah.
Saya sendiri kadang terjebak dalam pola pikir seperti ini: "Saya tahu bahwa keselamatan saya berasal dari Allah, tetapi sekarang tugas saya adalah berjuang keras untuk hidup bagi Yesus." Namun, pendeta Reformed asal Belanda, Andrew Murray (1828 — 1917), mengingatkan kita dengan sangat indah: "Tidak, hai pengembara. Sebagaimana Yesus yang menarik engkau ketika Dia berkata 'Marilah', demikian pula Yesus yang menopang engkau ketika Dia berkata 'Tinggallah'. Anugerah untuk datang dan anugerah untuk tinggal, keduanya berasal dari Dia."
Dengan kata lain, anugerah yang sama yang memampukan kita datang kepada Allah dengan iman juga adalah anugerah yang mentransformasi hidup kita dan memberi kemampuan untuk hidup dalam ketaatan dan kebenaran.
Paulus menggambarkan pertobatannya sendiri sebagai bukti nyata dari karya anugerah ini. Dia yang dahulu menghancurkan jemaat, kini menjadi perintis gereja -- semuanya karena anugerah Allah (Galatia 1:13-15). Dengan semangat yang sama, Paulus mendorong jemaat di Filipi untuk hidup dalam ketaatan dan melakukan perbuatan baik, bukan sekadar melalui usaha mereka sendiri, melainkan karena mereka diberdayakan oleh anugerah-Nya.
Maka kita kembali pada pertanyaan semula: Apakah saya harus berjuang keras untuk menjadi serupa dengan Kristus, atau cukup berdoa dan membiarkan Allah mengerjakan perubahan dalam hati saya?
(t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | For The Church |
| Alamat artikel | : | https://ftc.co/resource-library/articles/serving-jesus-our-effort-or-his/ |
| Judul asli artikel | : | Serving Jesus: Our Effort or His? |
| Penulis artikel | : | Paul Davis |

