Sebagian Besar Pertumbuhan Akan Menjadi Pertumbuhan yang Lambat

Artikel oleh Scott Hubbard
Editor, desiringGod.org

Jalan menuju ke surga diapit dengan bahaya -- dan bukan selalu bahaya yang kita perkirakan.

Banyak di antara kita yang mengawali perjalanan ini dengan memperkirakan ancaman-ancaman yang datang dari dunia: kenyamanan dan kenikmatannya, kisah-kisah palsu dan moralitasnya yang salah. Banyak di antara kita yang juga mengantisipasi bahaya yang muncul dari penderitaan: kehilangan yang mendadak, mimpi yang pupus, penganiayaan dalam berbagai bentuknya. Akan tetapi, mungkin lebih sedikit dari kita yang menyadari akan ancaman lain, yang kurang dikenal namun sama bahayanya: lambatnya pengudusan diri kita.

John Piper pernah berkata dalam sebuah wawancara,

Saya menemukan bahwa ada lebih banyak orang -- saya tidak yakin apakah ini benar, tetapi ini hampir benar -- yang siap meninggalkan iman Kristen mereka justru karena lambatnya pengudusan diri mereka, daripada karena kejahatan fisik yang mereka alami atau kerugian yang terjadi dalam kehidupan mereka. Mereka hanya lelah.

Beberapa di antara kita mempertimbangkan untuk meninggalkan jalan ke surga bukan terutama karena kita tergoda oleh dunia, atau karena kita dicobai melalui penderitaan, tetapi karena kita lelah. Lelah menyangkal diri setiap hari. Lelah mengambil dua langkah maju dan satu langkah mundur. Lelah berjalan di sebuah jalan yang terasa tak berujung, menuju ke sebuah kota yang tidak bisa kita lihat.

Kecewa dan sangat letih, banyak yang duduk di jalan itu, tidak yakin apakah mereka akan meneruskan lagi.

Sepuluh Juta Langkah

Mengapa lambatnya pengudusan diri kita membuat banyak dari kita yang terkejut (termasuk saya sendiri)? Dari mana kita mendapat gagasan bahwa kekudusan akan terjadi dengan cepat?

Dari sejumlah tempat. Mungkin budaya kita yang serba-cepat telah membentuk harapan kita lebih daripada yang kita sadari. Mungkin kesombongan kita sendiri yang menyebabkan kita salah menilai kekuatan kita dalam bertahan, sangat mirip dengan yang dahulu dilakukan oleh Petrus: "Sekalipun semua tersandung karena-Mu, aku tidak akan pernah tersandung." (lihat Matius 26:33). Atau mungkin kita sudah mendengar terlalu banyak orang Kristen yang berbicara tentang "rahasia" atau "kunci" untuk mengalahkan dosa -- saran-saran itu, hampir selalu, terlalu menyederhanakan pergumulan kita yang kompleks.

Dari mana pun kita mendapat gagasan bahwa jalan pemuridan akan lebih cepat, itu tidak kita dapatkan dari Alkitab. Dalam Kitab Suci, kita melihat bahwa keserupaan dengan Kristus yang dewasa tidak terjadi dalam satu bulan, satu tahun, atau satu dekade, tetapi seumur hidup. Kekudusan tidak punya rencana sepuluh-langkah -- tetapi sebuah rencana dengan sepuluh juta langkah, sebuah rencana yang hanya berakhir ketika kita meninggal.

Pandanglah Jauh Ke Depan

Gambaran tentang pertumbuhan yang Allah berikan kepada kita dalam firman-Nya meminta kita untuk memandang jauh ke depan tentang pengudusan. Mereka mengubah ekspektasi kita dari cepat menjadi lambat, dari langsung menjadi bertahap.

Kita adalah seperti petani yang menanam/menabur (Galatia 6:7). Anugerah yang bertumbuh dalam jiwa kita sangat mirip dengan kerajaan Allah yang bertumbuh/bertambah luas dalam dunia: benih itu dengan perlahan bertunas ke atas, tanaman dengan perlahan memenuhi ladang (Markus 4:28). Kita membajak dan menabur, menyiram dan memerhatikan, serta menghasilkan buah hanya "dalam ketekunan" (Lukas 8:15).

Kita adalah seperti anak-anak yang sedang bertumbuh (Efesus 4:14-15). Sama seperti semua anak-anak, tulang kita bertumbuh dengan perlahan. Kita bealih dari susu ke makanan padat dalam perjalanan kita untuk menjadi seperti saudara kita yang sulung (1 Petrus 2:2; Roma 8:29). Suatu hari kita akan menjadi sama seperti Dia, tetapi hanya "ketika Dia datang…karena kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya" (1 Yohanes 3:2).

Kita adalah seperti pelari dalam suatu perlombaan (1 Korintus 9:24). Perlombaan itu bukan lari jarak pendek, atau pun lari marathon, tetapi berjalan seumur hidup. Hanya ketika kita sampai pada garis akhir kehidupan, kita dapat berkata, "Aku telah mengakhiri pertandingan" (2 Timotius 4:7). Sampai saat itu, kita "berlari dengan tekun" (Ibrani 12:1), bukan memboroskan kaki kita di 100 meter pertama, tetapi melangkahkan kaki kita terus-menerus sampai akhir.

Kita adalah seperti musafir di bawah matahari yang terbit (2 Petrus 1:19). Terang itu menyerakkan/menghilangkan kegelapan kita, tetapi satu demi satu; jalan kita "bagaikan cahaya fajar, yang bersinar semakin terang dan benderang hingga terang hari" (Amsal 4:18). Kemuliaan Kristus bersinar atas kita "dari kemuliaan kepada kemuliaan" (2 Korintus 3:18).

Kita adalah seperti petani, anak-anak, pelari, musafir. Masing-masing gambaran ini mengingatkan kita bahwa kekudusan yang mendalam dan meresap terjadi sepanjang kita hidup: Firman Allah dengan perlahan menyusun kembali perspektif kita mengenai diri kita sendiri dan dunia. Yesus secara bertahap memperluas ketuhanan-Nya atas tugas-tugas yang paling biasa sekali pun. Roh Kudus dengan teguh menjadikan ketaatan dalam bidang-bidang tertentu sebagai kebiasaan. Allah memperbarui kita bukan langsung sekaligus, tetapi "hari demi hari" (2 Korintus 4:16).

Realitas Rohani

Dua penjelasan diperlukan pada poin ini.

Pertama, tidak semua kemajuan dalam kebenaran terjadi secara perlahan; banyak di antara kita dapat memberikan kesaksian tentang terlepasnya dari dosa-dosa tertentu dalam semalam, bahkan dosa-dosa yang dulunya memperbudak kita. Ketika kita memandang jauh ke depan tentang pengudusan, maka, kita seharusnya tidak berhenti berdoa kepada Allah untuk melakukan "jauh lebih melimpah daripada semua yang kita minta atau pikirkan" (Efesus 3:20).

Kedua, celakalah kita jika kita menggunakan pandangan jauh ke depan tentang pengudusan untuk membenarkan kelalaian rohani. "Perlahan dan terus-menerus saat ini" telah menjadi motto bagi banyak orang Kristen KTP. "Besok, besok," mereka berkata kepada diri sendiri. Akan tetapi, besok selalu terlihat sama seperti hari ini, saat mereka terus menghibur diri sendiri dengan janji-janji Allah walaupun tidak mau mendengarkan peringatan-peringatan-Nya. Seperti seorang pemalas, yang "tidak membajak pada musim dingin" dan "akan mencari pada musim menuai, dan tidak mendapat apa-apa" (Amsal 20:4), mereka yang memilih hidup dalam dosa saat ini tidak akan mendapat tempat perlindungan pada hari penghakiman.

Kitab Suci memberi kita pandangan jauh ke depan tentang pengudusan bukan supaya kita berhenti menaikkan doa-doa yang besar, atau supaya kita menjadi puas diri secara rohani, melainkan agar kita memiliki realitas rohani. Sebaliknya, orang-orang rohani demikian percaya, bahwa Allah telah "menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berkenaan dengan hidup dan kesalehan" (2 Petrus 1:3), dan agar mereka berjuang. Akan tetapi, orang-orang rohani demikian juga merasa, dalam lubuk hati, bahwa mereka tidak akan pernah bisa melewati satu hari pun tanpa kuasa darah Yesus yang menyucikan.

Selama kita ada di jalan menuju Gunung Sion, pertobatan akan menjadi kebiasaan sehari-hari kita. Selama kita tetap tinggal dalam dosa, "ampunilah kesalahan-kesalahan kami" akan menjadi doa yang tepat (Matius 6:12). Selama kita ada dalam tubuh ini, kita memiliki alasan untuk berkata (menguraikan sendiri kata-kata John Newton), "Saya bukan seperti diri saya yang seharusnya, saya bukan seperti yang saya inginkan, saya bukan seperti yang saya harapkan di dunia lain; tetapi tetap saja saya bukanlah seperti yang dahulu, dan oleh anugerah Allah saya adalah sebagaimana saya saat ini" (Newton on the Christian Life, 268).

Hal-hal Kecil Setiap Hari

Pandangan jauh ke depan tentang pengudusan, jika diterima dengan tepat, akan menciptakan kembali perspektif kita hari ini. Sebaliknya, kita akan mengadopsi ekspektasi yang rendah hati mengenai kemajuan hari ini. Petani yang membajak ladangnya tidak berharap memanen hasilnya di sore hari; demikian pula musafir dari luar negeri tidak berharap untuk tiba di rumahnya. Musim yang silih berganti dan luasnya negeri telah mengoreksi ekspektasi mereka.

Demikian pula orang Kristen yang mencari Allah seharusnya tidak berkecil hati ketika usaha hari ini gagal menghasilkan buah secara langsung. Membaca Kitab Suci, berdoa, berpuasa, dan bersekutu bukan seperti engkol pengungkit tetapi lebih seperti menaburkan benih. Kita menanam, menyirami, dan kemudian mengawasinya.

Akan tetapi, sebaliknya, pandangan yang jauh ke depan mengingatkan kita bahwa tindakan ketaatan kecil hari ini adalah hal yang paling penting. Langkah-langkah yang kita ambil hari ini mungkin tidak akan membawa kita langsung kepada kemuliaan -- benar. Akan tetapi kita tidak akan pernah mencapai kemuliaan kecuali kita terus melangkah.

Kita sendiri perlu melakukan apa yang disebut oleh Horatius Bonar sebagai "hal-hal kecil sehari-hari." Dia menulis, "Kehidupan Kristen adalah suatu hal yang besar, salah satu hal terbesar di bumi. Terdiri dari hal-hal kecil sehari-hari, tetapi itu sendiri bukanlah hal yang kecil, tetapi jika sungguh-sungguh dilakukan … seluruhnya adalah mulia" (God's Way of Holiness, 127). Jika kita mau bertekun sampai akhir, kita perlu memertahankan dua perspektif ini: (1) Kehidupan Kristen adalah "suatu hal yang besar." Dan (2) kehidupan Kristen terdiri dari "hal-hal kecil sehari-hari." Kekudusan terjadi satu langkah satu kalinya.

Tindakan ketaatan hari ini mungkin menurut Anda tidak hebat. Akan tetapi, jika Anda melakukannya dalam iman, dengan bersandar pada anugerah Yesus dan kuasa Roh-Nya, tindakan-tindakan itu tidak akan sia-sia. Membaca Kitab Suci dan berdoa hari ini, pengakuan dan penyesalan hari ini, pelayanan dan penginjilan hari ini, semuanya akan jatuh ke dalam tanah jiwa Anda. Anda akan menabur benih-benih masa depan diri Anda sendiri.

Scott Hubbard adalah seorang lulusan dari Bethlehem College & Seminary dan editor di desiringGod.org. Dia dan istrinya, Bethany, tinggal di Minneapolis.

URL: https://www.desiringgod.org/articles/most-growth-will-be-slow-growth