Doktrin: Tujuan Gereja yang Terlupakan

Saya masih mengingat saat mendengarkan sebuah siaran radio Kristen, ketika seorang penelepon mengajukan pertanyaan, "Apa yang seharusnya saya cari dalam sebuah gereja?" Sang pembawa acara menjawab, "Hal yang paling saya cari adalah persekutuan. Itu yang paling penting ketika memilih gereja."

Persekutuan memang bisa menjadi salah satu ciri yang baik dalam sebuah gereja, tetapi itu bukan jawaban yang tepat.

Sebagian orang berpendapat bahwa hal terpenting dalam sebuah gereja adalah seberapa menarik pengkhotbahnya. Ada juga yang lebih menyoroti kualitas musiknya. Sementara itu, orang-orang yang lebih berorientasi pada hal-hal duniawi mungkin menganggap kemudahan parkir atau kenyamanan auditorium sebagai faktor utama. Setiap orang memiliki kriterianya sendiri -- dan kita mungkin akan terkejut jika mengetahui apa saja yang sebenarnya dicari orang dari sebuah gereja.

Namun, dari semua hal itu, ciri yang paling penting dari sebuah gereja adalah bagaimana gereja tersebut memperlakukan kebenaran. Pertanyaan pertama yang seharusnya kita ajukan adalah: Apa yang mereka yakini tentang firman Tuhan, dan apa yang mereka percaya firman itu ajarkan?

Tujuan Gereja

Gereja memikul tanggung jawab besar untuk menjaga wahyu ilahi dan inti dari iman Kristen. Ia harus menjadi tempat penyimpanan yang kokoh bagi kebenaran dan menjadi suara yang setia memberitakannya. Karena alasan inilah rasul Paulus menyebut gereja sebagai "tiang penyokong dan dasar kebenaran" (1 Timotius 3:15, AYT).

Sebagai gembala jemaat di Efesus, Timotius tentu sangat memahami ilustrasi yang digunakan Paulus. Kota itu adalah tempat berdirinya sebuah bangunan megah yang dipersembahkan bagi Diana, dewi orang Efesus. Kuil tersebut merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia kuno, sejajar dengan Taman Gantung Babilonia dan Piramida Agung. Namun, bagian yang paling mencolok dari kuil itu adalah deretan pilar-pilarnya yang mengagumkan -- sebanyak 127 pilar marmer raksasa yang dilapisi emas dan bertabur permata.

Di atas pilar-pilar itu terbentang atap yang sangat besar, sementara di bawahnya terdapat struktur yang disebut hedraioma, yang berarti "penopang" atau "dasar" -- itulah fondasi dari kuil tersebut.

Struktur kuil itu berdiri di atas fondasi batu yang besar, menopang 127 pilar marmer yang kokoh, yang pada gilirannya menahan atap yang sangat luas. Seluruh bangunan itu -- fondasi, pilar, dan atapnya -- merupakan monumen bagi Setan dan kebohongan. Seperti halnya Vatikan yang megah, kuil ini menjadi simbol kemewahan yang menutupi penyesatan.

Sebaliknya, gereja dipanggil untuk menjadi monumen kebenaran. Itulah inti pesan Paulus kepada Timotius. Misi dan tujuan utama kita -- alasan mengapa gereja ada -- adalah untuk mewakili dan menyatakan kebenaran. Jika kita gagal untuk menjunjung dan menjalani kebenaran itu, maka kita tidak lagi layak disebut gereja. Banyak orang masuk dan keluar dari gereja setiap minggu tanpa menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan Allah yang membenci penipuan dan kebohongan.

Yudas menyampaikan hal ini dengan sangat jelas: aku merasa perlu menulis kepadamu dan memintamu supaya kamu berjuang sungguh-sungguh untuk iman yang disampaikan sekali untuk selamanya kepada orang-orang kudus" (Yudas 3, AYT). Ungkapan "berjuang sungguh-sungguh" menekankan pentingnya mempertahankan kebenaran dengan tekad yang terus-menerus dan semangat yang berkobar (bdk. 1 Timotius 1:18; 6:12; 2 Timotius 4:7). Dalam bahasa Yunani, istilah ini berasal dari kata kerja majemuk yang menjadi akar dari kata dalam bahasa Inggris "agonize" -- berjuang dengan segenap tenaga. Sejak masa Yudas hingga sekarang, umat percaya memang selalu dipanggil untuk memperjuangkan kemurnian iman Kristen.

Perlu juga diperhatikan bahwa ketika Yudas menyebut "iman," dia tidak sedang berbicara tentang keyakinan pribadi atau preferensi religius seseorang. Sebaliknya, yang dia maksud adalah iman Kristen -- seperangkat ajaran dan doktrin yang diturunkan kepada kita melalui Alkitab. Inilah yang dicatat Lukas dalam Kisah Para Rasul 2:42, ketika dia menulis bahwa jemaat mula-mula "senantiasa menaati ajaran para rasul" (penekanan ditambahkan; bdk. 1 Korintus 15:1-4; 2 Tesalonika 3:6). Baik istilah "iman" maupun "ajaran para rasul" mengacu pada kumpulan doktrin yang wajib dipertahankan secara sungguh-sungguh oleh gereja.

Hal inilah yang juga ditekankan Paulus kepada Timotius. Dia menasihatinya: "Peliharalah standar perkataan yang sehat, yang telah engkau dengar dari padaku, di dalam iman dan kasih yang ada di dalam Kristus Yesus. Jagalah, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita, harta yang dipercayakan kepadamu" (2 Timotius 1:13-14; bdk. 1 Timotius 6:19-20). Doktrin adalah harta rohani yang dipercayakan kepada gereja dan yang harus dijaga dengan setia.

Tujuan yang Terabaikan

Di zaman sekarang, semakin jelas bahwa banyak gereja tidak menjalankan tanggung jawab ini dengan sungguh-sungguh. Ini merupakan salah satu skandal paling memprihatinkan yang sedang melanda tubuh Kristus. Skandal terbesar bukanlah dosa seksual, meskipun seburuk apa pun itu. Bukan pula soal penyimpangan keuangan, walaupun penyalahgunaan dana gereja jelas tercela.

Masalah yang paling mendasar -- skandal yang paling awal dan serius -- bukan terletak pada bagaimana para pendeta memperlakukan tubuh mereka atau menggunakan uang mereka, tetapi pada bagaimana mereka memperlakukan Kitab Suci. Inilah penyimpangan yang terlalu sering diabaikan di dalam gereja. Media tidak membahasnya, penerbit dan platform menghindarinya, dan gereja sendiri acap kali memilih untuk tidak memperdulikannya.

Menjaga dan memelihara ajaran yang benar adalah panggilan yang tidak bisa ditawar-tawar bagi setiap orang Kristen.
 

Padahal, dosa terbesar di tengah umat Tuhan adalah menafsirkan secara keliru dan menyalahgunakan firman Tuhan yang kudus. Inilah yang mengguncang surga lebih dari apa pun, karena pelayanan Kristen seharusnya menjadi tempat yang menjaga dan melestarikan kebenaran.

Mazmur 138:2 (AYT) menyatakan, "Engkau telah mengagungkan nama-Mu dan perkataan-Mu mengatasi segala sesuatu." Karena Kitab Suci adalah penyataan diri Allah sendiri, maka firman-Nya memiliki martabat yang tak tertandingi. Jika seseorang menyelewengkannya, berarti dia telah menodai karakter Allah. Kitab Suci adalah amanat ilahi yang paling sakral, dan karena itu, kita memikul tanggung jawab besar untuk menjaga kemurnian pesannya. Itulah sebabnya Paulus menulis dalam 2 Korintus 2:17, "kami tidak seperti banyak orang lain, yang menjual firman Allah" (AYT). Kita tidak boleh menjadi seperti mereka yang memutarbalikkan ajaran demi keuntungan pribadi -- baik demi uang, pengaruh, maupun alasan lainnya.

Selalu saja ada orang-orang yang memperalat firman Tuhan demi memenuhi nafsu daging mereka, tetapi hal itu sama sekali tidak patut terjadi di antara umat Allah. Dalam ayat yang sama, Paulus melanjutkan, "Sebaliknya, dalam Kristus kami berbicara di hadapan Allah dengan ketulusan, sebagaimana utusan-utusan Allah." Kita bukanlah penipu yang memanfaatkan Alkitab untuk memanipulasi orang lain demi tujuan kita sendiri. Kita dipanggil untuk berbicara tentang Kristus dengan hati yang tulus dan integritas penuh di hadapan Allah. Sebab itulah, kita harus menjunjung tinggi kemurnian Kitab Suci dan ajaran yang terkandung di dalamnya.

Memanipulasi atau memutarbalikkan kebenaran -- termasuk mencampurkannya dengan kesalahan -- adalah tindakan yang mengundang murka Allah yang kekal. Karena itu, Paulus memperingatkan jemaat di Galatia dengan tegas, "Jika ada orang yang memberitakan kepadamu injil yang berlawanan dengan apa yang sudah kamu terima, biarlah dia terkutuk" (Galatia 1:9, AYT).

Peringatan yang serupa juga disampaikan oleh rasul Yohanes kepada para pembacanya:

"Setiap orang yang berjalan keluar dan tidak tinggal dalam ajaran Kristus, dia tidak memiliki Allah. Akan tetapi, siapa pun yang tinggal dalam ajaran itu memiliki, baik Bapa maupun Anak. Jika ada orang yang datang kepadamu dan tidak membawa ajaran ini, jangan menerima dia ke dalam rumahmu atau memberi salam apa pun. Sebab, siapa pun yang menyambut dia, mengambil bagian dalam pekerjaan jahat orang itu." (2 Yohanes 1:9-11, AYT)

Berbeda dengan penekanan yang sangat jelas dalam Perjanjian Baru, banyak gereja yang mengaku Kristen pada masa kini justru bersifat ateologis -- yakni, tidak memiliki keyakinan teologis yang berarti. Seperti halnya dunia di sekitar mereka, banyak orang yang mengatasnamakan Kristus justru percaya bahwa mengajarkan doktrin yang tegas dan absolut dianggap tidak penuh kasih, bersifat konfrontatif, bahkan disebut "tidak Kristen." Berpegang pada standar doktrin tertentu kerap dianggap usang dan terlalu otoriter.

Namun, justru itulah yang diperintahkan oleh Perjanjian Baru kepada gereja. Menjaga dan memelihara ajaran yang benar adalah panggilan yang tidak bisa ditawar-tawar bagi setiap orang Kristen. Kita dipanggil untuk dengan setia menjunjung tinggi ajaran Alkitab dan melindunginya dari para serigala rohani -- mereka yang dengan naluri alamiah selalu berusaha untuk memutarbalikkan kebenaran.

Merebut Kembali Tujuan Kita yang Terlupakan

Jika kita merenungkan bagaimana para martir sepanjang sejarah gereja rela menumpahkan darah demi mempertahankan Alkitab, kita akan melihat betapa mereka sungguh-sungguh menghargai firman itu -- mereka benar-benar percaya bahwa Alkitab adalah sesuatu yang kudus. Mereka menyerahkan seluruh hidup mereka untuk menjaga kemurnian iman yang telah diwariskan kepada gereja.

Bandingkan semangat itu dengan sikap sebagian orang pada masa kini, yang justru memperlakukan iman yang sama dengan sikap sembrono. Mereka mempermainkannya, seolah-olah iman hanyalah hal sekunder yang tidak terlalu penting.

Namun, masalah mengenai doktrin yang benar sebenarnya terletak di jantung dari seluruh persoalan dalam gereja -- ini adalah perhatian utama yang tidak boleh diabaikan. Jika kita tidak memahami kebenaran, dan tidak sungguh-sungguh berupaya untuk menegakkannya, maka gereja akan seperti tubuh dengan sistem kekebalan yang lemah akibat kurangnya ketajaman rohani. Dan bila sistem pertahanan itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya, gereja akan mudah diserang oleh berbagai macam penyakit rohani yang mematikan.

Kita tidak boleh dengan naif membuka diri terhadap mereka yang datang dengan penafsiran dan pengajaran yang keliru tentang kebenaran. Dari semua hal yang perlu dijaga, kebenaran adalah yang paling utama.

Karena itu, kita akan memusatkan perhatian pada topik ini dalam tulisan-tulisan blog selanjutnya. Saat ini, banyak orang menganggap bahwa doktrin tidak lebih dari sekadar pilihan -- bahkan sebagian menilainya berbahaya bagi kehidupan gereja. Namun, anggapan itu sungguh menyesatkan. Doktrin justru sangat penting, dan kegagalan untuk menyadari hal ini membawa dampak yang amat menghancurkan.

Sayangnya, justru pelanggaran paling merusak terhadap doktrin yang benar sering kali datang dari mereka yang seharusnya memberitakannya kepada umat Tuhan. Ini adalah ironi yang menyedihkan -- bahwa mereka yang diberi tanggung jawab untuk menjaga dan menyampaikan kebenaran malah menjadi pelanggar utamanya.

Karena itulah Roh Kudus menetapkan hanya satu keahlian utama yang mutlak dibutuhkan dalam jabatan gembala: kemampuan untuk mengajar dan membela kebenaran (1 Timotius 3:2; Titus 1:9). Tugas penting ini adalah fondasi dari seluruh pelayanan pastoral, dan inilah yang akan kita bahas lebih lanjut dalam kesempatan berikutnya.

(t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs:Grace to You
Alamat artikel:https://www.gty.org/library/blog/B240812/doctrine-the-forgotten-purpose-of-the-church
Judul asli artikel:Doctrine: The Forgotten Purpose of the Church
Penulis artikel:John MacArthur