Tahun Baru, Kebiasaan Baru

Saat kita memulai tahun yang baru, banyak orang mengevaluasi hidup mereka, menetapkan tujuan, dan membuat resolusi. Tahun Baru menjadi momen yang baik bagi orang Kristen untuk dengan jujur meninjau arah dan pertumbuhan hidup kita. Kita tidak ingin sekadar terjebak dalam rutinitas atau menjalani hidup tanpa arah; kita ingin menetapkan tujuan dan terus bertumbuh. Untuk itu, kita memerlukan bimbingan serta sumber daya yang menuntun kita menuju transformasi yang berpusat pada Kristus.

Justin Earley adalah seorang pengacara korporat yang menjalani hidup dengan kecepatan yang begitu tak tertahankan hingga dia mengalami kelelahan fisik dan spiritual. Untuk memulihkan diri, dia harus merombak kebiasaan dan rutinitas hidupnya. Dalam artikelnya pada tahun 2018 berjudul "Make Habits, Not Resolutions", dia menulis, "Jangan membuat resolusi, buatlah kebiasaan. Tidak seperti resolusi, kita sebenarnya menjadi kebiasaan kita. Tidak ada hidup yang berubah tanpa kebiasaan yang berubah. Dan jika kita benar-benar ingin berubah, kita perlu melihat dengan jujur ke arah mana kebiasaan kita membawa kita."

Pada tahun 2019, Earley menerbitkan sebuah buku berjudul "The Common Rule" untuk membantu orang lain mengembangkan kebiasaan yang penuh tujuan di zaman yang sarat dengan distraksi. Seperti yang pernah saya tulis dalam blog dan sampaikan dalam khotbah, ada banyak hikmat alkitabiah dari karyanya yang dapat kita terapkan dalam kehidupan kita. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pelayanannya, kunjungi www.thecommonrule.org.

Satu-satunya cara untuk memutus kebiasaan lama dan menumbuhkan kebiasaan baru adalah dengan mengandalkan anugerah Allah dan Roh Allah untuk melatih diri kembali melalui latihan yang berkelanjutan.
 

Kita dapat mendefinisikan kebiasaan sebagai pola dan rutinitas harian maupun mingguan yang membentuk hidup kita. Earley menunjukkan bahwa kebiasaan kita tidak hanya menyusun jadwal, tetapi juga membentuk hati kita jauh lebih dalam daripada yang sering kita sadari. Hidup kita dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan tersebut, tetapi sering kali kebiasaan itu tidak mencerminkan keyakinan dan nilai yang esensial dalam iman Kristen kita. Dia mengatakan bahwa meskipun rumah kehidupan kita mungkin "dihiasi dengan konten Kristen", kebiasaan kitalah yang menjadi struktur utama rumah tersebut. Jika kebiasaan kita tidak berbeda secara signifikan dari orang-orang sekuler di sekitar kita, bagaimana kita dapat berharap untuk hidup dalam kehidupan yang berkelimpahan dan setia seperti yang Kristus panggil untuk kita jalani?

Sekarang, pikirkanlah kebiasaan harian Anda. Apakah gambaran berikut terasa akrab? Anda bangun tidur lalu langsung meraih ponsel untuk memeriksa email dan media sosial. Setelah itu, Anda segera tenggelam dalam kesibukan mengurus anak-anak dan daftar tugas yang menanti. Dalam perjalanan ke tempat kerja, Anda mendengarkan radio. Anda melewatkan makan siang atau makan sendirian sambil terus menggulir layar ponsel. Saat makan malam tiba, Anda merasa lelah secara emosional dan tidak sungguh-sungguh terhubung dengan keluarga. Di penghujung hari, Anda merebahkan diri di tempat tidur untuk membaca satu bab atau menonton satu episode sebelum akhirnya tertidur.

Apakah kebiasaan-kebiasaan ini sungguh mencerminkan apa yang Anda hargai di dalam hati? Apakah kebiasaan tersebut benar-benar mewakili iman kita kepada Kristus dan komitmen kita terhadap pandangan dunia alkitabiah? Ataukah kita justru membiarkan tekanan dunia dan jalan yang paling mudah membentuk kebiasaan kita? Kenyataannya, terlalu banyak kebiasaan kita malah menguras kehidupan, bukan mengisinya. Kita tidak dipanggil untuk terjebak dalam pola dunia ini; sebaliknya, kita dipanggil untuk "latihlah dirimu untuk hidup dalam kesalehan. Latihan jasmani terbatas gunanya, tetapi kesalehan berguna dalam segala hal karena mengandung janji untuk kehidupan sekarang dan juga kehidupan yang akan datang" (1Tim. 4:7-8, AYT).

Karena itu, kita perlu dengan sengaja mengguncang rutinitas dan menata kembali kebiasaan kita agar selaras dengan siapa kita di dalam Kristus -- kasih kita kepada-Nya dan kepada orang-orang di sekitar kita. Kita membutuhkan anugerah Allah untuk mengembangkan kebiasaan harian dan mingguan yang memenuhi setiap aspek hidup kita dengan kehidupan baru dan sehat yang Allah sediakan. Seperti yang dikatakan Earley, kita perlu "membuat kebiasaan yang melekat, bukan membuat resolusi yang kita lupakan."

Namun, seperti yang kita semua ketahui, kebiasaan lama sulit diubah, dan kebiasaan baru bahkan lebih sulit dibangun. Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa dibutuhkan lebih dari dua bulan praktik yang konsisten untuk membentuk kebiasaan baru yang bermakna. Perubahan hidup yang nyata memerlukan waktu dan latihan. Kita perlu dengan sengaja bertumbuh sebagai orang Kristen yang dewasa, yaitu mereka "yang melatih indra mereka untuk membedakan apa yang baik dan yang jahat" (Ibr. 5:14, AYT). Satu-satunya cara untuk memutus kebiasaan lama dan menumbuhkan kebiasaan baru adalah dengan mengandalkan anugerah Allah dan Roh Allah untuk melatih diri kembali melalui latihan yang berkelanjutan.

Dengan semua hal ini di dalam pikiran, marilah kita meninjau empat kebiasaan harian dan empat kebiasaan mingguan yang dijabarkan Earley dalam buku "The Common Rule". Berikut adalah ringkasan saya -- dengan beberapa penyesuaian -- mengenai kebiasaan-kebiasaan penting tersebut bagi kehidupan Kristen:

Kebiasaan Harian

  • Doa
    Luangkan waktu setiap pagi, setiap malam, dan pada waktu-waktu tertentu sepanjang hari untuk terhubung dengan Allah. Gunakan waktu ini untuk mengucap syukur, mengakui dosa, menyampaikan permohonan, dan berdoa bagi orang lain. Doa Bapa Kami dapat dijadikan sebagai pola. Anda juga dapat mencoba berlutut saat berdoa untuk membantu menjaga fokus. Singkirkan ponsel Anda dan biarkan Roh memimpin waktu doa Anda.
  • Firman
    Kita membutuhkan firman Tuhan untuk meneguhkan dan memelihara jiwa kita. Sepanjang hari, kita akan berhadapan dengan berbagai distraksi dan tipu daya, karena itu awali hari dengan kebenaran firman Tuhan yang memberi hidup. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya membaca satu kitab Alkitab secara utuh, mengikuti rencana baca Alkitab, atau menggunakan Alkitab Studi untuk membantu pemahaman. Jika Anda kesulitan berkonsentrasi saat membaca bagian yang panjang, hal itu tidak menjadi masalah. Beberapa ayat saja sudah dapat membawa dampak. Jauhkan pula ponsel Anda agar firman Tuhan benar-benar memenuhi hati dan pikiran Anda.
  • Meja Makan
    Ada kekuatan tersendiri ketika kita berkumpul di sekitar meja bersama keluarga atau teman untuk bersyukur dan menikmati makanan. Namun, ritme hidup yang sibuk sering membuat kita makan dengan tergesa-gesa dan sendirian. Ketika kita memilih pola hidup seperti ini -- ya, ini adalah sebuah pilihan -- kita kehilangan kesempatan penting untuk membangun komunitas. Yesus makan bersama murid-murid-Nya, dan gereja mula-mula pun memecahkan roti bersama. Ada kehidupan yang mengalir ketika keluarga atau sahabat duduk bersama di satu meja, menikmati makanan dan persekutuan. Kadang-kadang kegiatan seperti latihan basket memang menghalangi, tetapi lakukan yang terbaik untuk menjadikan kebiasaan ini bagian dari ritme harian Anda.
  • Perhatian
    Ponsel kita adalah alat yang sangat kuat, tetapi banjir komunikasi, notifikasi, dan hiburan justru dapat mencuri kehidupan, bukan memberikannya. Ketika ponsel terus berada di hadapan kita, menjadi sulit untuk memberikan perhatian penuh kepada siapa pun -- baik kepada Tuhan, keluarga, maupun rekan kerja. Kebalikan dari distraksi adalah perhatian. Earley menyebutnya sebagai kebiasaan "hadir, bukan absen." Biasakan meluangkan satu jam atau lebih setiap hari tanpa ponsel. Pada waktu ini, Anda dapat berdiam diri dalam hadirat Tuhan atau memberikan perhatian sepenuhnya kepada teman, pasangan, dan anak-anak Anda. Kebiasaan ini akan menjadi sumber kehidupan, baik bagi Anda maupun bagi mereka.

Kebiasaan Mingguan

  • Persahabatan
    Kita diciptakan menurut gambar Allah sebagai makhluk relasional. Bahkan seorang introvert sejati pun tidak dimaksudkan untuk menjalani hidup sendirian. Buku "The Common Rule" dengan bijaksana menyarankan setidaknya satu jam percakapan tatap muka dengan seorang teman setiap minggu. Carilah seseorang yang dapat menjadi tempat Anda bersikap jujur, berbagi minat, dan tertawa bersama. Saat menghabiskan waktu bersama, ajukan pertanyaan yang mendalam, dengarkan dengan sungguh-sungguh, saling menguatkan, dan berdoalah bersama. Jika Anda menikah, kebiasaan ini perlu diwujudkan bersama pasangan Anda. Namun, baik menikah maupun lajang, penting untuk memiliki seorang teman tepercaya yang dapat Anda temui secara rutin. Jadwalkan pertemuan itu dan jadikan sebagai kebiasaan mingguan.
  • Sabat
    Kebanyakan orang bekerja secara berlebihan, memiliki jadwal yang terlalu padat, dan hidup dengan tingkat stres yang tinggi. Akibatnya, istirahat, rekreasi, dan waktu tenang sering kali diremehkan. Namun, Allah menciptakan kita sebagai makhluk terbatas yang membutuhkan tidur setiap malam dan istirahat setiap minggu. Pola beristirahat satu hari dari tujuh sudah tertanam sejak penciptaan. Karena itu, apa pun pekerjaan Anda — entah pelajar, ibu rumah tangga, insinyur, tukang leding, atau manajer penjualan — biasakan menyediakan satu periode dua puluh empat jam setiap minggu untuk berhenti dari pekerjaan. Kita semua membutuhkan istirahat bagi jiwa.
  • Puasa
    Kita telah menyinggung berkat berkumpul untuk menikmati makanan bersama, tetapi makanan juga memiliki tantangannya sendiri. Terlalu sering kita menggunakan makanan sebagai pelarian untuk meredakan frustrasi, kecemasan, depresi, dan kelelahan. Kebiasaan mingguan berpuasa berfungsi seperti tombol penyetelan ulang. Puasa mengingatkan kita bahwa manusia tidak hidup dari roti saja. Dalam Alkitab, puasa sering dikaitkan dengan doa karena praktik ini mendorong tubuh dan jiwa untuk memandang kepada Allah, bergantung kepada-Nya, dan dipuaskan oleh-Nya. Jika Anda baru memulai puasa, awali dengan langkah yang realistis. Cobalah berpuasa satu kali makan, lalu pertimbangkan secara bertahap untuk melakukan puasa selama 24–36 jam.
  • Cerita
    Manusia selalu terpikat oleh cerita yang baik. Sebelum film daring, ada televisi; sebelum televisi, ada radio; sebelum radio, ada buku; dan sebelum buku, kisah diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Menikmati cerita bukanlah sesuatu yang salah dan bahkan bersifat manusiawi. Namun, siklus hiburan daring tanpa henti yang kosong makna atau bersifat destruktif dapat merusak jiwa. Konsep “mengurasi media” mengajak kita memilih dengan bijak cerita-cerita yang membangun hidup dan keluarga kita. Tentukan batas waktu hiburan — misalnya 4 atau 8 jam seminggu — lalu berpeganglah pada batas tersebut. Kurasi media Anda dan jadikan itu sebuah kebiasaan.

Saat meninjau kembali kebiasaan-kebiasaan ini, Anda akan menyadari bahwa semuanya menjadi jauh lebih sulit dan jauh kurang memuaskan ketika ponsel ikut terlibat. Faktanya, banyak kebiasaan buruk kita berakar pada cara kita menggunakan ponsel. Karena itu, letakkan ponsel Anda lebih sering pada tahun ini. Aktifkan mode pesawat, tinggalkan di ruangan lain, atau matikan sama sekali. Untuk memperoleh manfaat maksimal dari kebiasaan-kebiasaan tersebut, kita memerlukan hati dan pikiran yang terfokus. Jangan biarkan ponsel menjadi hal pertama yang menyita perhatian Anda di pagi hari. Mulailah hari dengan kebiasaan doa dan firman Tuhan sebelum Anda melihat ponsel. Ini merupakan bagian penting dari upaya menebus waktu.

Anda juga akan melihat bahwa empat kebiasaan harian dan empat kebiasaan mingguan yang direkomendasikan dalam "The Common Rule" terutama berfokus pada jiwa dan relasi kita dengan sesama. Penekanan ini sangat baik, tetapi kita juga perlu mengingat bagaimana Allah menciptakan kita. Untuk benar-benar hidup dalam kehidupan berkelimpahan yang telah Kristus tebus bagi kita, kita perlu merawat jiwa dan tubuh -- keduanya saling terkait. Karena itu, orang Kristen perlu memprioritaskan kebiasaan-kebiasaan yang mendukung kesehatan fisik, sebagaimana pernah saya bahas dalam seri khotbah "Kekristenan yang Sehat".

  • Pola Makan Bergizi
    Kita patut bersyukur karena hidup pada masa dan di tempat dengan akses yang mudah terhadap makanan, tetapi sayangnya banyak dari makanan tersebut tergolong junk food. Mengisi tubuh dengan air, buah dan sayuran, protein yang sehat, serta makanan utuh akan membantu kita tetap kuat dan sehat. Pola makan bergizi juga berarti menikmati makanan manis, kafein, dan alkohol secara moderat.
  • Tidur yang Cukup
    Sama seperti kita membutuhkan satu hari istirahat setiap minggu, kita juga membutuhkan tidur yang berkualitas setiap malam. Menata ritme hidup dengan memprioritaskan tidur selama 7–8 jam setiap malam akan memberi Anda energi untuk melakukan semua hal yang Tuhan panggil untuk Anda kerjakan.
  • Olahraga Fisik
    Tuhan telah memberi kita tubuh yang luar biasa dan merancangnya untuk bergerak. Olahraga yang dilakukan secara teratur dapat membantu meredakan stres, meningkatkan kesehatan mental, mendorong kualitas tidur yang lebih baik, dan menambah energi fisik. Karena itu, berjalanlah, bermain olahraga, angkat beban, atau berenang — lakukan sesuatu yang membuat tubuh Anda aktif.
  • Seks dalam Pernikahan
    Seks adalah karunia yang indah dalam pernikahan. Karunia ini dapat meningkatkan kesehatan fisik, mengurangi stres, dan memperdalam keintiman suami istri. Jika Anda lajang, menghormati Tuhan melalui kemurnian seksual tetap menjadi hal yang sangat penting bagi kesehatan fisik dan rohani.

Awal tahun merupakan waktu yang tepat untuk mengevaluasi rutinitas kita, mencari hikmat dari Tuhan, dan membentuk ulang kebiasaan-kebiasaan hidup kita. Merombak hidup tidaklah mudah, tetapi upaya ini sepadan. Proses ini menuntut fokus yang disengaja, ketergantungan pada Roh, dan karya Kristus yang memberi kuasa melalui anugerah. "Untuk itulah, aku juga bersusah payah, berjuang sesuai dengan kuasa-Nya yang bekerja dengan kuat di dalam aku." (Kol. 1:29, AYT)

(t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs:Living Hope Church
Alamat artikel:https://findlivinghope.com/2024/01/new-year-new-habits/
Judul asli artikel:New Year, New Habits
Penulis artikel:Tim Dance