Dalam tulisan ini, saya ingin membagikan dua puluh praktik yang dapat membantu Anda melayani Yesus dalam jangka panjang di satu tempat. Saya mulai melayani sebagai staf di Calvary Monterey sejak tahun 1999 dan menjadi pendeta utama pada tahun 2008. Sejauh ini, praktik-praktik inilah yang menopang saya untuk tetap setia dalam pelayanan. Tentu saja, dalam keluarga besar Calvary Chapel, banyak orang telah melayani selama puluhan tahun di lokasi yang sama -- dan saya telah banyak belajar dari keteladanan mereka. Maka, tanpa urutan berdasarkan tingkat kepentingan, berikut dua puluh praktik yang mungkin akan menolong Anda bertahan dalam pelayanan di satu tempat selama bertahun-tahun.
01. Membaca
Menjelang akhir hidupnya, Rasul Paulus tahu waktunya hampir habis. Namun dia tetap berpesan kepada Timotius, "Jika kamu datang, bawalah jubah yang kutinggalkan pada Karpus di Troas, juga kitab-kitabku, terutama perkamen itu" (2 Timotius 4:13, AYT). Di ambang kematian, Paulus masih menginginkan jubahnya -- tapi juga buku-bukunya, dan terlebih lagi Kitab Suci. Ia ingin terus mempelajari firman hingga hidupnya dicurahkan sebagai persembahan bagi Allah. Jika tokoh secerdas Paulus saja terus belajar sampai akhir hayatnya, membaca tentu akan menjadi berkat besar bagi kita juga.
Bagi saya pribadi, membaca telah sangat membangun dan memperkaya. Melalui buku, saya memperoleh nasihat, pengajaran, perencanaan, teologi, pemahaman Alkitab, strategi pelayanan, hingga wawasan tentang relasi antarmanusia -- semuanya semakin tajam dan mendalam. Jika Anda ingin bertahan lama dalam pelayanan, bacalah.
02. Hubungan
Hubungan-hubungan penting telah menjadi penopang utama dalam perjalanan pelayanan saya hingga hari ini. Pernikahan saya adalah tempat perlindungan yang aman. Anak-anak saya membawa kesegaran dan keceriaan dalam hidup. Teman-teman dekat saya hadir untuk tertawa dan menangis bersama. Semua relasi ini telah memberi kekuatan dan menopang saya, sekaligus membantu meringankan tekanan yang kerap menyertai kehidupan pelayanan.
Dalam pelayanan, taruhannya tinggi. Karena itu, bisa tertawa bersama sahabat -- terutama saat menertawakan diri sendiri -- adalah obat yang sangat manjur (Amsal 17:22). Saya bahkan menjuluki orang-orang terdekat ini sebagai Tim Penghalau Keputusasaan.
03. Menolak untuk Membanding-bandingkan
Dalam salah satu perumpamaan Yesus, para pekerja yang mulai bekerja sejak pagi hari mengeluh karena para pekerja yang datang belakangan menerima upah yang sama (Matius 20:12). Perbandingan itu merampas sukacita mereka. Bukannya bersyukur atas pekerjaan penuh dan upah yang layak, mereka malah iri terhadap keberhasilan orang lain dan kebermurahan hati sang tuan.
Sebagai hamba Kristus, kita akan sering tergoda untuk membandingkan diri dengan sesama pelayan Tuhan. Namun, apa manfaatnya? Lebih baik kita bersukacita atas bagaimana Tuhan memakai orang lain, lalu fokus menundukkan kepala dan mengerjakan bagian yang dipercayakan kepada kita. Kita tidak dipanggil untuk berlari dalam lintasan orang lain, melainkan dalam perlombaan yang telah ditentukan bagi kita (Ibrani 12:1). Karena itu, belajarlah untuk menolak godaan membanding-bandingkan.
04. Penyegaran oleh Anugerah
Saul adalah raja yang buruk bagi Israel. Namun, dalam suatu momen keberanian yang diilhami Tuhan, putranya -- Yonatan -- melancarkan serangan terhadap para penindas Filistin. Allah menyertai Yonatan, dan bangsanya pun bangkit untuk mendukungnya. Sayangnya, Saul yang terbawa suasana bersumpah bahwa tak seorang pun boleh makan sebelum kemenangan diraih. Ketika mendengar sumpah itu, Yonatan menanggapinya dengan mencemooh, lalu memakan sedikit madu dari sarang lebah. Seketika itu juga, matanya menjadi cerah. Dia pun berkata, "Lebih lagi, jika pada hari ini rakyat dapat makan dengan bebas dari jarahan musuh yang telah didapatnya. Namun, sekarang, tidak banyak kekalahan di antara orang Filistin," (1 Samuel 14:30, AYT).
Saya selalu menganggap sumpah Saul sebagai gambaran legalisme dalam gereja, "jangan sentuh ini, jangan cicipi itu, jangan nikmati hal-hal ini". Tentu saja, jika sesuatu memang dilarang dalam Kitab Suci, kita harus menghindarinya. Namun, jika tidak, mungkin justru itu adalah "madu" yang bisa menyegarkan Anda untuk terus maju dalam pertempuran rohani. Jangan abaikan anugerah yang menyegarkan.
05. Olahraga
Pelayanan sering kali membuat tubuh kurang bergerak. Di sisi lain, orang Kristen terkenal pandai dalam hal "memecah roti" -- makan bersama. Ditambah lagi, kita membutuhkan waktu untuk bersantai dan melepaskan tekanan dari kesibukan pelayanan gereja. Untuk semua ini, olahraga menjadi bagian penting yang sering diabaikan.
Memang, olahraga tidaklah seberharga kesalehan -- seperti doa, pembacaan Alkitab, atau persekutuan -- tetapi Alkitab sendiri menyatakan bahwa olahraga tetap memiliki nilai (1 Timotius 4:8). Saya ingin melayani Yesus selama mungkin, dan saya menyadari bahwa menjaga kekuatan dan daya tahan fisik merupakan bagian dari tanggung jawab saya. Ada banyak aspek kesehatan yang berada di luar kendali saya, tetapi ada juga banyak hal yang bisa saya kelola. Karena itu, saya berkomitmen untuk berolahraga secara teratur.
06. Berjalan Setiap Hari
Sebenarnya, hal ini layak berada di urutan teratas. Sebab perjalanan pribadi Anda dengan Kristus adalah sumber kekuatan yang akan membuat Anda terus melangkah. Dia setia, selalu hadir untuk menguatkan, menghibur, mengarahkan, mengampuni, menyemangati, dan mencurahkan anugerah-Nya kepada para hamba-Nya.
Datanglah kepada-Nya. Berlindunglah di bawah curahan kasih karunia-Nya. Nikmatilah kehadiran-Nya dalam penyembahan. Habiskan waktu bersama-Nya dalam doa. Kenalilah Dia melalui firman-Nya. Dan, yang terpenting, berjalanlah bersama-Nya setiap hari sepanjang hidup Anda.
07. Waktu untuk Menyendiri
Ada satu episode singkat dalam pelayanan Paulus yang selalu saya kagumi. Saat dia dan timnya dalam perjalanan, semua orang naik kapal menuju Asos, kecuali Paulus. Dia lebih memilih menempuh perjalanan darat sendirian ke kota yang sama (Kisah Para Rasul 20:13-14). Mungkin dia sudah jenuh dengan kapal, tapi yang lebih penting: dia ingin menyendiri.
Saya percaya waktu itu tidak terbuang sia-sia. Dia pasti menggunakannya untuk merenung, berdoa, atau hanya menikmati keheningan bersama Tuhan. Yesus sendiri sering memberi teladan tentang pentingnya menyendiri sebelum melayani murid-murid atau kerumunan orang banyak. Kehidupan Kristen yang sehat butuh ruang sunyi. Karena itu, ambillah waktu untuk menyendiri dan lihatlah bagaimana Tuhan bekerja dalam keheningan itu.
08. Biarkan Hal-hal Menjadi Berantakan
Amsal berkata, "Jika tidak ada sapi, palungan menjadi bersih, tetapi panen yang melimpah didapat melalui kekuatan sapi," (Amsal 14:4, AYT). Anda bisa saja menjaga segala sesuatu tetap rapi dan tertib, tetapi tidak menghasilkan sesuatu yang berarti.
Jika Anda mendambakan buah pelayanan yang melimpah, bersiaplah menerima sedikit kekacauan di sepanjang jalan Anda. Pertumbuhan dan dampak sering kali datang dengan kekacauan yang tak terhindarkan. Jadi, jangan terlalu cepat panik saat semuanya tampak berantakan. Ingatkan diri Anda: kekacauan hari ini bisa jadi ladang subur bagi buah yang Tuhan sedang tumbuhkan.
09. Katakan Tidak
Jika Anda ingin pelayanan yang singkat dan melelahkan, cukup katakan "ya" untuk semua hal. Cepat atau lambat, Anda akan kehabisan tenaga. Kelelahan akan datang, dan semangat akan memudar.
Sebaliknya, belajarlah berkata "tidak." Tolak undangan yang bukan bagian dari panggilan Anda. Lewati kesempatan yang tidak sejalan dengan prioritas utama. Lawan godaan untuk selalu terlibat dalam segala hal. Akan ada seribu perkara yang Tuhan ingin Anda katakan "ya," tapi ada sejuta hal lain yang seharusnya Anda tolak. Anda tidak bisa menyelesaikan misi Kristus sambil terus mencoba menyenangkan semua orang.
Maka, katakan "tidak" demi panggilan yang lebih besar (2 Korintus 1:17-18).
10. Jangan Mengejar Angka
Saya rindu menjangkau sebanyak mungkin orang. Saya ingin memuridkan sebanyak mungkin jiwa. Namun, terus-menerus mengejar angka dapat melelahkan dan melemahkan para pelayan Tuhan. Fokus semacam itu tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga bisa mengalihkan perhatian dari apa yang benar-benar penting. Sebaliknya, fokuslah pada kualitas. Bangunlah kehidupan, bukan sekadar statistik. Ironisnya, saat kita berkomitmen untuk melakukan pelayanan dengan baik dan setia, sering kali kuantitas akan mengikuti. Lagi pula, mata kita mudah tertipu -- apa yang tampak besar di mata manusia belum tentu bernilai di mata Tuhan.
Tugas kita adalah memuridkan. Lakukan bagian Anda dengan sungguh-sungguh, percayakan hasilnya kepada Tuhan, dan biarkan Dia yang menambahkan jumlah jemaat-Nya (Kisah Para Rasul 2:47).
11. Pengampunan
Jika Anda ingin melayani dalam jangka panjang di satu tempat, pengampunan adalah elemen yang tak tergantikan.
Pertama, Anda akan membutuhkan pengampunan dari orang lain. Dalam perjalanan pelayanan, Anda pasti akan membuat kesalahan, menyinggung, bahkan melukai -- entah sengaja maupun tidak. Saat Anda menyadarinya, belajarlah untuk rendah hati dan meminta maaf. Kedua, Anda juga harus bersedia mengampuni. Gereja memang terdiri dari orang-orang kudus, tetapi sebelum kebangkitan yang mulia nanti, kita semua masih bergumul dalam kelemahan. Kadang-kadang seseorang akan datang dan meminta maaf. Akan tetapi, sering kali Anda perlu mengampuni tanpa pernah mendengar permintaan maaf. Pengampunan harus jadi sikap hati -- diberikan terus-menerus, saat demi saat, bahkan kepada mereka yang tak sadar telah bersalah.
Dan terakhir, Anda perlu belajar menolak penghukuman terhadap diri sendiri (Roma 8:1). Saya enggan menggunakan frasa "mengampuni diri sendiri," karena mengandung beban teologis yang rumit, tapi Anda paham maksudnya. Pelayanan sering kali diwarnai momen-momen memalukan. Saya pun malu atas beberapa bagian dari masa lalu saya, tetapi tetap saja, saya harus melangkah maju (Filipi 3:13-14).
12. Genggaman yang Longgar
Anda tidak akan bertahan lama, terutama dalam satu tempat pelayanan, jika Anda mengira bahwa gereja adalah milik Anda. Gereja adalah milik Kristus. Ia adalah mempelai-Nya, tubuh-Nya, dan Dialah kepalanya. Karena itu, kita harus melayani dengan hati yang sadar bahwa gereja bukanlah milik kita. Kita cukup memegangnya dengan genggaman yang longgar.
Sebagai pelayan Injil, tentu kita memiliki tanggung jawab terhadap jemaat dan komunitas lokal yang kita layani. Namun, kesadaran bahwa gereja adalah milik Yesus justru membebaskan dan menguatkan. Saya sendiri telah dikuatkan dalam banyak keputusan, diteguhkan saat mengalami kegagalan, dan dikuatkan dalam iman -- karena mengetahui bahwa gereja ini bukan milik saya. Yesus memiliki rencana-Nya bagi mempelai-Nya, dan tugas saya adalah berjalan bersama-Nya.
13. Bersiaplah untuk Belajar dari Pemimpin atau Anggota Baru
Jika Anda melayani cukup lama di satu tempat, cepat atau lambat para pemimpin lama akan pergi, dan wajah-wajah baru akan datang menggantikan mereka. Jujur, ada kalanya saya berharap bisa melayani bersama tim yang sama selama lima puluh tahun. Akan tetapi saya tahu, hal itu bukanlah hal yang sehat atau realistis.
Seiring waktu, tim Anda akan berkembang, berubah, dan bertumbuh. Karena itu, belajarlah dari mereka yang baru bergabung. Dengarkan perspektif dan suara mereka. Waktu saya masih muda, banyak anggota tim saya jauh lebih tua dan berpengalaman -- dan saya sangat membutuhkan masukan mereka. Sekarang, seiring bertambahnya usia, saya justru dikelilingi oleh tim yang lebih muda. Dan saya menyadari pentingnya melawan kecenderungan untuk meremehkan mereka yang belum banyak pengalaman. Tuhan menempatkan mereka dalam hidup dan pelayanan saya untuk sebuah alasan. Maka, mendengarkan mereka adalah bentuk ketaatan dan kerendahan hati yang baik.
14. Istirahat
Bagi yang belum terjun langsung dalam pelayanan, gagasan tentang melayani Yesus mungkin terdengar glamor. Namun kenyataannya, kehidupan pelayanan -- terutama bagi mereka yang bekerja purna waktu di gereja -- bersifat sangat repetitif. Hari Minggu selalu datang. Dosa selalu muncul. Keputusan tidak pernah habis. Belajar, menasihati, berdoa, rapat -- semuanya terus-menerus dibutuhkan.
Karena itu, istirahat menjadi sangat penting bagi saya. Pertama, waktu istirahat memulihkan energi saya dari tuntutan tanggung jawab. Kedua, saya perlu menjeda proses belajar cukup lama agar pikiran bisa segar kembali. Ketiga, menjauh dari gereja sesekali memberi saya sudut pandang baru dari Tuhan. Keempat, keluarga adalah pelayanan saya yang utama, dan waktu libur membantu saya kembali memfokuskan hati kepada mereka. Kelima, Tuhan sendiri beristirahat pada hari ketujuh, dan bahkan satu hari istirahat dalam seminggu bisa membawa keajaiban bagi kehidupan dan kesehatan jiwa Anda. Karena itu, beristirahatlah. Itu bukanlah sebuah kelemahan, tetapi sebuah tindakan ketaatan.
15. Membuat Orang Terhubung Satu Sama Lain
Ada terlalu banyak pelayanan yang dibangun dengan bergantung pada satu orang pemimpin. Sejak awal, saya menyadari bahwa keimamatan semua orang percaya berarti setiap orang dipanggil untuk saling terhubung, saling menolong, dan saling membangun. Dalam arti tertentu, kita dipanggil untuk "menggembalakan" satu sama lain. Tentu saja, para gembala memiliki peran penting -- untuk mendorong, membangun, menasihati, bahkan menegur. Namun, mereka tidak bisa melayani semua orang, dan setiap waktu. Kita membutuhkan satu sama lain.
Itulah sebabnya sangat penting untuk merancang pelayanan yang tidak hanya bergantung pada pemimpin, melainkan menghubungkan orang percaya dengan orang percaya lainnya. Seperti jemaat mula-mula yang hidup dalam persekutuan sejati (Kisah Para Rasul 2:42), kita pun dipanggil untuk membangun jejaring kehidupan rohani yang saling menopang.
16. Jadilah Teguh
Yakub pernah menggambarkan Ruben sebagai "air yang tidak terkendali" (Kejadian 49:4, AYT). Ungkapan itu terus terngiang di benak saya, dan sejak lama saya berdoa agar bisa menjadi pemimpin yang teguh dan stabil. Jika Anda terus berpindah dari satu doktrin ke doktrin lain, dari satu penekanan teologis ke penekanan berikutnya, atau dari program ke program, orang-orang yang Anda layani akan merasa lelah dan bingung. Kepemimpinan yang stabil memang mungkin terlihat membosankan, tapi kebosanan jauh lebih bisa ditoleransi daripada ketidakstabilan yang terus-menerus.
Ketika orang tahu apa yang bisa mereka harapkan dari Anda, mereka lebih mudah berjalan bersama Anda -- bukan hanya untuk sementara, tapi untuk waktu yang lama.
17. Bertujuan Melihat Kristus dalam Setiap Orang yang Anda Layani
Saya mengenal banyak hamba Tuhan yang merasa lelah dan jenuh dalam pelayanan mereka karena merasa tidak lagi tertantang. Mungkin, dalam beberapa kasus, hal itu merupakan dorongan dari Roh Kudus untuk memasuki musim yang baru. Namun, tak jarang, rasa jenuh itu lahir dari pandangan yang sempit.
Saya pribadi menemukan bahwa kerinduan untuk melihat Kristus dalam diri setiap orang yang saya layani (Galatia 4:19) adalah sumber tantangan yang tidak pernah habis. Setiap orang memiliki area dalam hidupnya yang belum sepenuhnya tunduk kepada Tuhan sehingga selalu ada ruang untuk pertumbuhan. Selalu ada bagian hati yang perlu dijamah dan diubah menjadi serupa dengan Kristus. Fokus ini membuat pelayanan saya tetap hidup dan menantang. Karena ketika Anda rindu melihat Kristus dalam diri sesama Anda, pekerjaan Anda tak akan pernah terasa selesai -- itulah yang membuatnya begitu bermakna.
18. Mendambakan Pertumbuhan Pribadi
Masih berbicara tentang tantangan. Saya yakin, Anda tidak akan mampu bertahan lama di satu tempat tanpa kerinduan yang sungguh-sungguh untuk terus bertumbuh secara pribadi. Tanpa hasrat untuk berubah, Anda akan mudah stagnan dan kehilangan semangat dalam pelayanan. Saya tahu, dalam diri saya sendiri, Roh Kudus masih punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Namun, ketika saya benar-benar menginginkan transformasi -- ketika saya sungguh-sungguh ingin dibentuk menjadi serupa dengan Kristus -- setiap pengalaman dalam pelayanan, baik yang menyenangkan maupun yang sulit, menjadi peluang bagi-Nya untuk membawa saya dari satu tahap kemuliaan ke tahap berikutnya (2 Korintus 3:18).
Kerinduan akan pertumbuhan pribadi menjaga hati tetap terbuka, rendah hati, dan siap dibentuk. Hal itu sangat penting jika Anda ingin melayani dengan setia dalam jangka panjang.
19. Percayalah pada Kuasa Injil
Ketika seorang hamba Kristus mulai meragukan Injil sebagai kuasa Allah untuk menyelamatkan, kehidupan pelayanannya bisa berubah menjadi campuran yang ganjil antara usaha manusia yang melelahkan, rutinitas yang kering, dan rasa kalah yang terus menghantui. Anda tidak akan bertahan lama jika mulai percaya bahwa orang-orang yang Anda layani, atau komunitas tempat Anda berada, sudah berada di luar jangkauan Injil.
Begitu harapan itu hilang, semangat untuk melayani pun akan turut padam. Namun, jika Anda tetap percaya pada kuasa Injil, Anda akan terus memiliki alasan untuk bertahan, untuk memberitakan, dan untuk mengasihi. Teruslah berkata bersama Paulus, "Aku tidak malu akan Injil karena Injil adalah kuasa Allah untuk keselamatan setiap orang yang percaya" (Roma 1:16, AYT).
20. Kasih
Paulus berkata bahwa dia dikendalikan oleh kasih Kristus -- didorong, digerakkan, bahkan didesak oleh kasih itu. Kasihnya kepada Kristus, kasih Kristus kepadanya, dan kasih Kristus kepada dunia menjadi dorongan yang tak pernah padam dalam pelayanannya. Itu pula yang membuatnya terus maju, melayani tanpa henti, apa pun tantangannya.
Tanpa kasih, seorang hamba Tuhan tak akan melangkah jauh. Kasih adalah bahan bakar sejati bagi pelayanan yang bertahan lama. Kita harus membuka hati terhadap karya Roh Kudus, karena hanya Dialah yang bisa menghasilkan kasih sejati dalam hidup kita -- buah roh yang pertama dan utama (Galatia 5:22). Dan, jika kita ingin mengasihi sebagaimana mestinya, kita sangat membutuhkan pertolongan-Nya. Kasih bukanlah sekadar emosi -- kasih adalah kuasa yang memampukan kita bertahan dan melayani sampai akhir.
(t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | Calvary Chapel |
| Alamat artikel | : | https://calvarychapel.com/posts/20-practices-that-will-help-you-serve-jesus-for-a-long-time-in-one-place/ |
| Judul asli artikel | : | 20 Practices That Will Help You Serve Jesus For A Long Time In One Place |
| Penulis artikel | : | Nate Holdridge |

