Revolusi pada hakikatnya bersifat merusak dan mengguncang. Revolusi meruntuhkan hal-hal lama lalu mendirikan lembaga dan jaringan baru sebagai gantinya. Revolusi membawa konflik. Revolusi menginjak-injak hal-hal yang dahulu dianggap sakral dan mengangkat gambar serta ikon baru sebagai objek penghormatan publik. Revolusi dapat membawa kelegaan sekaligus bencana. Namun, yang terutama, revolusi mengubah keadaan. Revolusi menimbulkan guncangan besar dan menciptakan kenormalan baru yang begitu cepat menjadi biasa sehingga kita hampir tidak lagi mengingat seperti apa keadaan sebelumnya.
Perhatikan beberapa contoh berikut.
Penemuan mesin cetak membawa perubahan besar. Penemuan ini mengubah cara kita menyimpan dan menyebarkan pengetahuan. Penemuan ini juga melahirkan budaya literasi baru dengan peluang dan risiko yang baru.
Penemuan mobil membawa perubahan besar. Mobil memperluas kemampuan kita untuk bepergian. Kita tidak lagi terikat pada desa, tetapi dapat bergerak di dalam kota maupun antarkota. Perkembangan ini juga membuat keluarga inti semakin berjauhan dari keluarga besar. Selain itu, mobil mendorong lahirnya industri-industri baru sekaligus memunculkan masalah baru terkait keselamatan di jalan dan polusi.
Perjalanan udara juga membawa perubahan besar. Perkembangannya membuat perjalanan nasional dan internasional semakin terjangkau. Perjalanan udara mengubah peperangan modern dan menciptakan dunia baru dengan membuat jarak terasa semakin dekat.
Kehadiran internet dan menjamurnya perangkat digital pribadi juga membawa perubahan besar. Perkembangan ini mengubah dunia dalam banyak hal, mulai dari cara kita membeli dan menjual barang hingga cara kita bekerja, membayar tagihan, mendengarkan musik, belajar bahasa, dan berkomunikasi dengan keluarga. Revolusi digital telah menciptakan ruang virtual baru dengan segala peluang dan risikonya bagi semua orang. Faktanya, orang sekarang seolah hidup melalui ponsel mereka. Mereka menonton tayangan televisi di hampir semua perangkat, justru bukan di televisi. Kehidupan profesional dan pribadi mereka berlangsung sebagian, bahkan terutama, dalam ruang digital. Lantas, mengapa kehidupan rohani mereka harus berbeda?
Selain itu, pembatasan selama COVID mempercepat revolusi digital. Banyak dari kita dahulu diberi tahu bahwa bekerja dari rumah tidak mungkin, tidak praktis, tidak dapat dilakukan, atau tidak layak. Namun, karena COVID, banyak dari kita akhirnya bekerja dari rumah selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Ternyata bekerja dari rumah itu mungkin, praktis, dapat dilakukan, dan layak -- lalu menjadi hal yang biasa. Dampaknya masih kita rasakan sampai sekarang.
Salah satu dampak yang jelas adalah bahwa sejak COVID, banyak orang tidak kembali beribadah di gereja secara langsung. Sebaliknya, mereka lebih suka menjelajahi berbagai gereja secara daring dengan menonton siaran langsung dari banyak gereja. Ada pula yang mendapatkan khotbah mingguan dari sebuah gereja besar melalui podcast. Seberapa pun kita mengeluh tentang hal ini, perubahan tersebut sudah menjadi kebiasaan bagi banyak orang dan tampaknya tidak akan segera mereka tinggalkan.
Revolusi digital sebenarnya sudah berkembang secara perlahan. COVID mempercepatnya, tetapi bukan titik awalnya. Gereja dan lembaga pelayanan sudah lama mengalokasikan sumber daya untuk internet -- mulai dari membuat situs web sederhana, memiliki saluran YouTube, mengubah khotbah menjadi berkas MP3, mengelola podcast, aktif di media sosial, hingga mengelola grup percakapan privat. Namun, sebesar apa pun dampaknya, semua itu umumnya hanya menjadi pelengkap pelayanan tatap muka dan pelayanan di lokasi fisik. Pembatasan COVID pada 2020 -- 2022 membuat hal-hal yang sebelumnya hanya menjadi pelengkap tiba-tiba menjadi sarana utama, bahkan satu-satunya bentuk pelayanan Kristen yang dapat dilakukan dan/atau diterima banyak orang.
Istri saya melayani anak-anak di gereja kami. Ketika pembatasan akibat COVID diberlakukan, dia harus mencari cara menjalankan pelayanan anak secara daring. Seperti banyak orang lain, dia harus belajar dengan cepat cara menulis, merancang, merekam, menyunting, dan membagikan materi video untuk anak-anak di bawah usia dua belas tahun. Dia seolah menjadi Steven Spielberg bagi video-video Sekolah Minggu. Dia juga mencari cara untuk tetap terhubung dengan anak-anak, mengirimkan perlengkapan kerajinan tangan, dan mengatur waktu bermain bersama ketika situasi sudah cukup aman.
Saya adalah dekan akademik dan profesor studi Alkitab di sebuah seminari. Selama masa pembatasan, saya dan rekan-rekan harus mencari cara menjalankan seminari sepenuhnya secara daring tanpa pertemuan tatap muka. Bagaimana kami dapat beribadah bersama sebagai sebuah komunitas? Bagaimana kami membimbing para mahasiswa? Kami harus membuat sumber daya dari awal, menjaga proses belajar-mengajar tetap berlangsung, memasarkan seminari dan merekrut mahasiswa, memenuhi persyaratan akreditasi yang terus berkembang, serta memantau kesehatan mental para dosen, staf, dan mahasiswa.
Saya menduga banyak orang sudah menanyakan hal ini kepada diri sendiri: apa dampak revolusi digital dalam jangka panjang? Bagaimana kita membangun pemuridan dalam dunia yang dipenuhi metaverse, layanan streaming, dan platform media sosial yang seolah tidak ada habisnya? Bagaimana kita menjalani kehidupan bergereja ketika hadir secara fisik di gereja hanyalah sebuah pilihan, bukan keharusan?
Kita dapat berakhir dengan memperlakukan gereja sekadar sebagai pertemuan daring mingguan para teman Facebook Yesus.
Kita perlu melakukan introspeksi dan refleksi karena berbagai perubahan ini baru saja dimulai. Karena itu, kita perlu memikirkan secara mendalam eklesiologi, yaitu doktrin tentang gereja, dengan mempertimbangkan seluruh peluang dan tantangan yang hadir pada era digital. Jika kita tidak memikirkan persoalan ini secara sungguh-sungguh dan menyeluruh, kita akan mudah terpaku pada jawaban-jawaban yang dangkal, mengikuti tren sesaat, ikut arus, semata-mata pragmatis, dan berpandangan pendek terhadap pertanyaan-pertanyaan sulit. Atau, kita dapat berakhir dengan memperlakukan gereja sekadar sebagai pertemuan daring mingguan para teman Facebook Yesus.[1]
Era digital membutuhkan eklesiologi yang jelas dan kokoh untuk memahami hubungan antara ruang fisik, ruang digital, dan tubuh Kristus.
Bagaimana Keadaan Telah Berubah
Ada beberapa perubahan akibat revolusi digital, yang dipercepat oleh pembatasan selama COVID, dan masih kita rasakan hingga sekarang.
1. Mencari gereja seperti menelusuri Amazon.com
Seorang rekan saya sedang mencari gereja baru. Dengan polos, saya mengira dia mengunjungi gereja yang berbeda setiap hari Minggu untuk menemukan gereja yang tepat bagi dirinya dan keluarganya. Ternyata sama sekali tidak. Dia mencari gereja dengan memeriksa saluran YouTube mereka, melihat ibadah mereka, dan meneliti situs web mereka. Mencari gereja sekarang seperti berbelanja sepatu secara daring!
2. Akses internasional
Jika Anda dapat berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris, seluruh dunia berbahasa Inggris terbuka bagi Anda. Fakta menarik: Sydney, Australia, merupakan kota dengan pembaca artikel The Gospel Coalition terbanyak. TGC memperoleh lebih banyak kunjungan dari Sydney dibandingkan kota lain mana pun di dunia. Kota-kota seperti London, Singapura, Bogotá, dan Mexico City juga termasuk pembaca utama artikel-artikel TGC. Bahasa Inggris ditambah media sosial berarti Anda memiliki audiens internasional di ujung jari. Dari kantor gereja di kota kecil seperti Boise, Idaho, atau Bismarck, North Dakota, Anda pun dapat memiliki jangkauan internasional. Saya sendiri menulis artikel ini dari pinggiran Melbourne, Australia, sementara sebagian besar pembacanya akan berada di Amerika Serikat, Inggris, dan Asia Tenggara!
3. Hibrida adalah kenormalan baru
Kehidupan Kristen dan keterlibatan kita dalam gereja kini berlangsung melalui berbagai perjumpaan fisik dan interaksi digital. Kita mengatur jadwal pelayanan melalui dokumen bersama, memberikan persembahan melalui debit otomatis, dan mengadakan pertemuan secara tatap muka maupun melalui Zoom. Ya, kita tetap berkumpul untuk ibadah mingguan. Masih ada pendalaman Alkitab secara tatap muka, kegiatan anak dan pemuda, serta pelayanan belas kasih yang membutuhkan kehadiran langsung. Namun, unsur digital sekarang menjadi bagian dari kehidupan itu -- bagian dari lanskap pelayanan dan kehidupan komunitas. Perangkat digital dapat menjadi sarana yang sangat baik untuk membangun komunitas.
4. Siaran langsung telah menjadi hal biasa
Gereja saya sekarang menyiarkan secara langsung semua ibadah. Dahulu kami tidak pernah melakukannya. Hal ini merupakan dampak langsung dari COVID. Artinya, jika saya sakit di rumah, sedang berlibur, atau bepergian untuk urusan pekerjaan, saya tetap dapat menyaksikan gereja saya beribadah dan bahkan ikut berpartisipasi dari jauh. Cara ini belum tentu ideal, tetapi membantu saya tetap terhubung dengan keluarga gereja ketika saya tidak dapat hadir secara langsung.
5. Penggembalaan dapat dilakukan secara digital
Bertahun-tahun yang lalu, seorang pendeta berpengalaman mengatakan kepada saya bahwa 80 persen pelayanan pastoral dapat dilakukan melalui telepon. Saya kira hal yang sama masih berlaku sekarang, dengan tambahan email dan media sosial. Kita dapat mengetahui keadaan jemaat atau sesama anggota gereja hanya dengan sesekali mengirim pesan singkat. Kita juga dapat melihat apa yang mereka bicarakan di media sosial -- tentu tanpa melakukannya dengan cara yang mengganggu atau membuat mereka tidak nyaman. Itu merupakan salah satu cara untuk mengetahui keadaan mereka. Bukan berarti ada sesuatu yang dapat menggantikan pertemuan langsung sambil menikmati minuman hangat. Namun, sekarang kita memiliki sarana lain untuk berjalan bersama keluarga gereja kita.
6. Orang Kristen memiliki akses ke konten Kristen yang jauh lebih luas daripada khotbah lokal dan buku cetak
Dahulu, pengajaran Kristen terutama kita peroleh melalui khotbah dan pendalaman Alkitab yang terkait dengan gereja lokal. Mungkin kita juga terlibat dalam pelayanan parachurch, seperti pelayanan mahasiswa di universitas, atau membaca buku yang dibeli dari toko. Namun, sumber utama persekutuan dan pembelajaran tetaplah gereja lokal. Sekarang tidak lagi demikian. Ada industri pelayanan Kristen yang sangat luas dan dapat diakses hanya dengan satu klik atau usapan jari. Podcast, renungan, buku digital, buletin, blog, saluran YouTube, layanan televisi berlangganan, dan akun media sosial menawarkan pilihan dan akses yang nyaris tanpa batas. Bahkan, pengajar Kristen digital, figur terkenal, atau influencer dapat menjadi sumber utama pengajaran dan inspirasi Kristen seseorang. Bagi orang yang sedang berpindah gereja, sedang menjalani pemulihan setelah pengalaman buruk dengan gereja, atau sekadar terlalu malas datang ke gereja dan berinteraksi dengan jemaat, hal ini tentu menarik. Pertanyaannya: apakah semua itu menjadi pelengkap kehidupan bergereja atau justru penggantinya?
7. Pendidikan teologi tidak lagi seperti dahulu
Ketika saya masuk seminari, Anda berhenti bekerja, lalu mengikuti program gelar penuh waktu selama tiga tahun di kampus, sambil bekerja paruh waktu di gereja sebagai peserta magang pelayanan. Sebagai dekan seminari yang sering berbicara dengan dekan-dekan seminari lainnya, saya dapat mengatakan bahwa jalur seperti itu jelas bukan lagi pola yang umum. Sebagian besar seminari sekarang mengajar 50 -- 70 persen mahasiswa secara daring, baik sepenuhnya maupun sebagian. Sebagian besar mahasiswa belajar paruh waktu sambil tetap bekerja di satu atau bahkan dua pekerjaan. Hal yang paling dicari dalam pendidikan teologi saat ini adalah fleksibilitas karena banyak orang memiliki kehidupan yang sibuk dan harus menyesuaikan studi seminari ke dalam jadwal mereka. Studi daring sekarang menjadi pola umum, bukan pengecualian.
Keadaan ini menciptakan berbagai tantangan bagi seminari. Bagaimana membangun pengalaman belajar sebagai satu angkatan ketika sebagian atau seluruh anggotanya belajar secara daring? Bagaimana menyediakan sumber daya perpustakaan ketika sebagian mahasiswa berada di kampus dan sebagian lainnya tinggal sangat jauh dari perpustakaan? Bagaimana membimbing mahasiswa dalam pembentukan pelayanan dan kehidupan rohani secara daring? Bagaimana membagi beban kerja dosen berdasarkan kelas tatap muka, hibrida, dan sepenuhnya daring? Revolusi digital membuat administrasi seminari terasa seperti memecahkan kubus Rubik yang terus melawan setiap upaya untuk menyelesaikannya.
Bisakah Kita Menghentikan Revolusi Digital?
Dunia digital menawarkan akses instan, kemudahan nyata, beragam pilihan, serta berbagai konten dan layanan Kristen yang dapat dicoba dan dikonsumsi orang -- meskipun kualitasnya sangat beragam. Khotbah, komentar politik, musik penyembahan, maupun bimbingan tersedia melalui langganan, bahkan banyak yang gratis. Namun, apakah kita benar-benar membutuhkannya? Apakah semua itu baik bagi kita? Bisakah kita melepaskan diri darinya?
Ada orang-orang yang skeptis terhadap dunia digital, para puris yang akan menyuruh kita keluar dari Facebook, membatalkan langganan RedeemTV, berhenti menyiarkan ibadah secara langsung, dan tidak lagi mencari kiat berkhotbah dari Reddit. Mereka mungkin berkata, "Jika Anda tidak dapat menatap mata seseorang, menjabat tangannya, atau menangkap nada suaranya, hal itu mengurangi kualitas persekutuan gereja, berpotensi menjadi gangguan berbahaya yang berasal dari dunia, atau bahkan membuat Anda membuka diri terhadap pengaruh buruk dari orang yang ngawur atau penipu mana pun yang memiliki koneksi internet dan gagasan-gagasan aneh. Menurut pandangan ini, jauh lebih banyak yang perlu ditakuti daripada manfaat yang dapat diperoleh. Jadi, tinggalkan jaringan, kembalilah ke cara analog, dan lakukan semuanya dengan cara lama, yaitu secara tatap muka."
Masalahnya, kita tidak dapat mengembalikan algoritma ke dalam komputer seolah-olah revolusi digital belum terjadi. Kehidupan kita sekarang membentang di dunia fisik dan digital. Kehidupan profesional dan sosial kita memiliki jejak digital, lengkap dengan manfaat dan risikonya. Itulah kenyataan yang kita hadapi. Hal yang sama berlaku bagi kehidupan Kristen dan pelayanan gereja. Suka atau tidak, keduanya akan memiliki unsur digital.
Saya teringat ketika bekerja di bidang intelijen militer pada 1990-an. Saat itu, konsep perang informasi, perang siber, serta komando, kendali, dan komputasi sebagai senjata perang masih dalam tahap awal. Sekarang, perang siber, baik untuk pertahanan maupun serangan, merupakan salah satu medan utama peperangan modern -- sebagaimana terlihat dalam konflik di Ukraina. Saya pikir hal serupa juga berlaku bagi pelayanan gereja.
Ruang digital sekarang menjadi salah satu medan pelayanan gereja. Orang-orang kita berada di dunia digital, maka ke dunia digital itulah kita juga harus pergi. Facebook dan Twitter adalah agora baru, Google adalah Areopagus baru, dan grup percakapan Anda adalah ruang kuliah Tiranus yang baru. Baik untuk terhubung dengan orang lain secara digital, memanfaatkan sumber daya yang tersedia, maupun membagikan sumber daya yang kita miliki kepada orang lain, ruang digital merupakan salah satu tempat kita perlu hadir jika ingin memberi kesaksian, menjadikan murid, menggembalakan gereja, dan menjalani kehidupan bersama.
Revolusi digital ibarat fisi nuklir: kekuatan yang berpotensi merusak, tetapi jika ditangani dengan benar, dapat menjadi sumber daya yang nyaris tak terbatas untuk pelayanan Kristen dan pelayanan bagi Kerajaan Allah.
Revolusi digital tidak dapat dihentikan. Namun, mungkin kita dapat menunggangi gelombangnya, memanfaatkannya, menguduskannya, dan menaklukkannya kepada Kristus.
Inkarnasi Lebih Utama daripada Avatar, Kehadiran Lebih Utama daripada Tampilan
Meskipun saya memandang dunia digital sebagai salah satu ranah atau medan pelayanan dan kesaksian Kristen, saya tidak menganggapnya sebagai pengganti kehidupan Kristen yang dijalani secara fisik, tatap muka, dan melalui kontak langsung antarmanusia. Dunia digital adalah pelengkap, bukan pengganti.
Bahaya besarnya adalah dunia digital dapat mendorong munculnya doketisme eklesiologis. "Doketisme" adalah ajaran sesat yang mengklaim bahwa Yesus hanya tampak memiliki tubuh fisik, padahal sebenarnya Dia memiliki tubuh semu, seperti hantu, atau bersifat hampir sepenuhnya rohani. Ajaran ini berangkat dari anggapan bahwa Allah tidak mungkin mengenakan sesuatu yang dianggap menjijikkan atau kotor seperti tubuh manusia dengan segala cairan, kelemahan, dan kekurangannya. Demikian pula, ada bentuk doketisme dalam gereja yang menganggap tubuh fisik kita tidak penting; tubuh hanyalah avatar, sedangkan dunia yang "nyata" dianggap berada di dalam pikiran atau ponsel kita. Doketisme eklesiologis semacam ini sama buruknya dengan doketisme Kristologis.
Sang Firman tidak menjadi algoritma; Dia menjadi manusia.
Orang Kristen tidak dipanggil kepada World Wide Web, tetapi kepada dunia dengan segala keindahan dan bahayanya.
Pengharapan kita bukanlah peningkatan perangkat lunak, melainkan kebangkitan tubuh dan kehidupan dalam ciptaan baru.
Tuhan Yesus berkata kepada Petrus, "Gembalakanlah domba-domba-Ku," bukan menyuruhnya mencari lebih banyak pengikut dan pelanggan berbayar.
Bagi mereka yang menginginkan akses instan kepada segala sesuatu, tidak ingin mengambil risiko membangun relasi dengan orang-orang yang bisa berbuat salah, dan lebih menyukai khotbah penuh energi dari pengkhotbah terkenal yang dapat diputar kapan saja daripada pemikiran yang kurang tertata dan anekdot klise dari pendeta lokal, kehidupan Kristen yang sepenuhnya digital merupakan godaan besar. Namun, godaan itu harus kita lawan.
Saya memahaminya. Saya seorang introver dan hidup saya sibuk. Pada hari Minggu tertentu, saya pun lebih suka tetap memakai piyama, menikmati teh dan roti panggang, memutar Planet Boom di Spotify, menonton siaran langsung dari gereja favorit di New York atau London, memakai aplikasi "Book of Common Prayer", mengirim ayat Alkitab melalui pesan pribadi kepada beberapa teman, lalu mengecek apakah Uber Eats dapat mengantarkan jus dan roti perjamuan.
Itulah konsumerisme digital Kristen, tetapi bukan kekristenan. Saya bahkan tidak yakin pola seperti itu akan sehat dalam jangka panjang.
Tubuh Kristus memang adalah tubuh. Kita merupakan kehadiran fisik Kristus di bumi ketika Roh Kudus menghubungkan kita dengan Juru Selamat kita yang bangkit dan dimuliakan, sekaligus menghubungkan kita satu sama lain. Digital atau tidak, kita mungkin menjadi satu-satunya "Yesus" yang akan dijumpai banyak orang. Kita mungkin menjadi satu-satunya Alkitab yang akan mereka baca, satu-satunya doa yang akan mereka dengar, dan satu-satunya mukjizat yang akan mereka lihat. Selain itu, keluarga Kristen kita perlu melihat wajah kita, bukan sekadar GIF kita. Mereka membutuhkan penguatan dari kita, bukan hanya emoji. Anda tidak dapat mengirim seporsi makanan hangat melalui email dan melihat sukacita di wajah seseorang ketika Anda sendiri membawakannya. Air mata semestinya ditumpahkan di bahu seseorang, bukan ke iPhone atau papan ketik.
Ingatlah juga bahwa pendeta terkenal bukanlah pendeta Anda. Uber Eats tidak dapat mengantarkan Perjamuan Kudus (saya sudah pernah bertanya!). Podcast adalah rekaman khotbah, bukan khotbah itu sendiri, saat firman Tuhan berhadapan langsung dengan kita melalui segala hikmat, kemuliaan, dan kuasa-Nya. Seberapa pun Anda menyukai akun Instagram, akun itu tidak akan pernah membalas kasih Anda.
Pertimbangkan hal ini juga: dahulu orang pergi ke dunia daring untuk melarikan diri dari dunia nyata. Namun, sekarang orang justru pergi ke dunia nyata untuk melarikan diri dari dunia digital. Dunia digital adalah hal yang baik, tetapi seperti semua hal yang baik, dunia ini dapat rusak dan disalahgunakan. Bahkan, dunia digital dapat membuat kita kecanduan. Jika Anda tidak percaya, cobalah mengambil iPhone dari seorang remaja pada pukul 10 malam!
Kita dapat menggunakan dunia digital, tetapi harus memastikan bahwa kita tidak tersesat di dalamnya atau menyerahkan diri sepenuhnya kepadanya. Seberapa keras pun orang mencoba, kita tidak dapat hidup di sana -- tidak sepanjang waktu dan tentu tidak untuk selamanya.
Eklesiologi untuk Dunia Hibrida
Jadi, bagaimana kita dapat hidup dengan setia dan bijaksana sebagai orang Kristen di dalam gereja pada era digital? Ada enam hal yang perlu kita pertimbangkan agar dapat menggunakan lanskap digital secara sehat.
1. Ortodoksi
Ada banyak konten Kristen di dunia daring dan tidak semuanya ortodoks. Sebagian bahkan terang-terangan merupakan ajaran palsu atau omong kosong belaka. Jika kita menggunakan dunia digital sebagai sumber konten, pengajaran, atau makanan rohani, kita harus mampu membedakan. Gunakan dan rekomendasikan hanya pengajar, lembaga, dan organisasi yang Anda kenal serta memiliki reputasi yang luas dan baik. Besarnya jumlah audiens seseorang tidak selalu menunjukkan kualitas pengajarannya.
2. Persekutuan
Sumber daya digital seharusnya memperkuat persekutuan, bukan mengikisnya atau menjauhkan kita satu sama lain. Salah satu bahaya terbesar dunia digital adalah keterputusan. Kita kehilangan kontak dengan orang lain ketika kita juga kehilangan diri, identitas, tujuan, bahkan iman kita di ruang maya. Persekutuan berbicara tentang persatuan kita di dalam Kristus dan dengan satu sama lain. Karena itu, semakin dekat kita kepada Kristus, seharusnya semakin dekat pula kita satu sama lain, demikian juga sebaliknya. Persatuan itu juga diwujudkan secara fisik. Sama seperti pernikahan tidak dapat sepenuhnya bersifat virtual, demikian pula persekutuan Kristen. Ya, kita dapat melihat satu sama lain makan melalui FaceTime, tetapi saya tidak dapat membasuh kaki Anda secara digital. Ya, saya dapat melambaikan tangan kepada teman melalui Facebook atau menyukai unggahan mereka di Instagram, tetapi itu tidak dapat menjadi keseluruhan hubungan kita. Barbara Streisand benar: manusia membutuhkan manusia lain -- secara langsung.
3. Misi
Dalam penginjilan atau pelayanan belas kasih, banyak hal dapat dilakukan secara digital, tetapi banyak pula yang tidak dapat dilakukan melalui sarana digital. Kita dapat membuat kursus daring yang memperkenalkan kekristenan, menyediakan video apologetika yang ringkas dan tajam, serta menanggapi orang-orang yang mengajukan pertanyaan rohani. Namun, percakapan mendalam tentang Allah dan Injil membutuhkan sentuhan yang sangat personal -- perpaduan antara mendengarkan dan menasihati serta kesediaan menghadapi keraguan dan keputusasaan seseorang -- yang lebih baik dilakukan secara tatap muka.
Demikian juga, kita dapat meningkatkan kesadaran tentang suatu isu atau menggalang dana untuk tujuan tertentu secara daring. Namun, pada akhirnya, orang yang lapar tidak dapat memakan algoritma atau emoji. Mereka membutuhkan seseorang yang datang mendampingi, menopang, membawa mereka ke rumah sakit, atau membawakan makanan. Santo Ignatius tidak pernah berkata, "Berilah makan orang miskin; jika perlu, gunakan makanan." Belas kasihan, keadilan, dan kepedulian harus diwujudkan secara nyata; semuanya tidak dapat sekadar dilampirkan pada email atau ditautkan dalam dokumen Word.
4. Penggembalaan
Banyak upaya untuk menanyakan dan memantau keadaan orang memang dapat dilakukan melalui email, telepon, atau Zoom. Namun, orang yang sedang terluka membutuhkan kehadiran orang lain, bukan sekadar wajah pada layar. Empati dan penguatan hanya dapat disampaikan melalui koneksi internet sampai batas tertentu. Merawat orang berarti hadir di samping mereka, baik di rumah maupun di tempat perawatan, untuk mengetahui ketakutan, sukacita, dan pengharapan mereka.
5. Pendidikan teologi
Dunia digital menghadirkan kemudahan dan fleksibilitas dalam studi teologi. Manfaatnya jelas bagi orang yang tidak dapat meninggalkan kota atau pekerjaannya untuk belajar penuh waktu. Saya sendiri telah berupaya agar mahasiswa daring dapat memperoleh pendidikan seminari daring sebaik mungkin, di mana pun mereka berada dan apa pun jadwal mereka. Pengantar Perjanjian Baru, etika Kristen, khotbah, atau doktrin tentang Allah semuanya dapat dipelajari secara daring. Bahkan di luar seminari, tersedia sumber pembelajaran yang baik seperti Logos Mobile Ed, Masterclass, dan SeminaryNow.
Meskipun studi daring fleksibel dan memungkinkan, saya tetap berpikir bahwa kondisi yang ideal adalah menjadi bagian dari sebuah komunitas, bertemu secara tatap muka, dan menjalani proses belajar bersama rekan-rekan seperjalanan. Berdasarkan pengalaman saya, hal terpenting yang diingat mahasiswa dari seminari bukanlah gagasan intelektual atau teknik pelayanan yang mereka pelajari, melainkan relasi yang mereka bangun dengan para pengajar dan sesama mahasiswa. Sebagian dari pengalaman itu memang dapat diperoleh secara daring, tetapi jauh lebih baik ketika dialami secara langsung.
6. Pemuridan
Seorang murid adalah orang yang belajar dan meneladani. Kita belajar dari Yesus dan tentang Yesus sambil berusaha meneladani-Nya. Menurut saya, pemuridan merupakan proses bimbingan, pembelajaran, dan pertumbuhan iman yang berpusat pada Yesus. Pemuridan berarti mengejar kedewasaan di dalam Kristus (Kolose 1:28). Ada banyak cara yang baik untuk melakukannya secara daring -- misalnya mendengarkan podcast bersama seorang pembimbing atau teman, kemudian mendiskusikannya melalui Discord atau WhatsApp. Jika sekelompok mahasiswa yang Anda bimbing pindah ke tempat lain, perangkat digital menjadi sarana yang sangat baik untuk tetap terhubung dan menjaga proses pemuridan terus berjalan.
Namun, saya teringat perkataan Paulus bahwa dia mengajar di muka umum dan "dari rumah ke rumah" (Kisah Para Rasul 20:20). Ada sesuatu yang efektif, baik secara pastoral maupun pedagogis, ketika kita mengunjungi mahasiswa di asrama untuk pendalaman Alkitab, berdoa bersama para pekerja di ruang makan saat istirahat, atau bertemu dengan ibu-ibu rumah tangga di taman untuk memadukan katekese, doa, dan diskusi buku.
Saya dapat merangkum kekhawatiran saya tentang dunia digital dengan kutipan dari surat Ibrani:
Mari kita mencari cara untuk dapat saling mendorong dalam mengasihi dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik, dan janganlah menjauhkan diri dari pertemuan ibadah kita bersama, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang. Akan tetapi, marilah kita saling menguatkan, terlebih lagi karena kamu tahu bahwa Hari Tuhan sudah semakin dekat. (Ibrani 10:24–25, AYT)
Kesimpulan
Saya mengawali esai ini dengan menunjukkan bahwa revolusi digital akan terus membawa perubahan besar. Perubahan itu baru saja dimulai. Saya telah berusaha menunjukkan bahwa ada banyak peluang untuk menggunakan sumber daya dan platform digital secara bijaksana dan penuh pertimbangan dalam kehidupan dan pelayanan Kristen. Kita seharusnya memanfaatkannya, tetapi juga menyadari berbagai risikonya -- termasuk bahaya-bahaya yang bahkan belum kita bayangkan.
Sekarang kita sudah sampai pada titik ketika kecerdasan buatan dapat menghasilkan khotbah, menggubah lagu penyembahan, menulis bahan pendalaman Alkitab, dan menawarkan konseling rohani. Khotbah bahkan dapat disampaikan melalui avatar yang dibuat secara artifisial. Pada masa depan, batas antara realitas virtual dan realitas nyata akan semakin kabur. Dalam dunia seperti itu, baik digital maupun nyata, kita harus tetap berakar: berakar di dalam Allah, berakar di dalam anugerah Allah, dan berakar di tengah umat Allah. Perjalanan kita bersama menyatukan tubuh, iman, kasih, kehidupan, dan pengharapan di dalam Juru Selamat kita bersama. Mungkin ada aplikasi yang dapat membantu perjalanan itu. Namun, "aplikasi" paling nyata yang menolong kita adalah bergandengan tangan dan berjalan bersama ke seluruh dunia.
Catatan kaki:
[1] Kalimat yang saya pinjam dari Nick Perrin, "Jesus’ Eschatology and Kingdom Ethics: Ever the Twain Shall Meet," dalam "Jesus, Paul, and the People of God: A Theological Dialogue with N.T. Wright" (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 2011), 102.
(t/Jing-jing)
| Diambil dari: | ||
| Nama situs | : | Word by Word |
| Alamat artikel | : | https://www.logos.com/grow/hall-discipleship-in-a-digital-age/ |
| Judul asli artikel | : | Deep Discipleship in a Digital Age: Rethinking Church, Ministry, and Life Together in an Online World |
| Penulis artikel | : | Michael F. Bird |

